Hukum Menerima Pemberian dari Pekerja di Sektor Haram

  • by

Penanya:

Ustadz apakah boleh kita menerima hadiah dari orang yang bekerja di sektor haram, atau ia berdonasi untuk mesjid atau selain itu dari amal-amal kebaikan?

Jawaban:

Bismillah…

Walhamdulillah…

Wash shalâtu wassalâmu ‘alâ Rasûlillâhi…

Ammâ ba’du,

Dimaklumi bahwa sebagian orang terkadang masih awam bahwa pekerjaan mereka di sektor haram. Mereka asyik saja bekerja di tempat tersebut dan mengira bahwa itu baik-baik saja. Ada yang mencoba mencari tahu status hukum pekerjaannya, ada yang memang tidak mencari tahu sehingga ia bergelimang harta-harta haram.

Namun, terkadang diantara mereka masih memiliki jiwa sosial dan solidaritas yang tinggi sehingga ingin berbagi. Jika kita tolak, biasanya mereka tersinggung. Jika kita terima terkadang sebagian kita belum tahu bagaimana status pemberian tersebut.

Maka bagaimanakah kiranya status hadiah atau

-sponsor-
donasi atau pemberian dari orang yang berprofesi di sektor haram?

Dalam hal ini Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’iy memberikan fatwa,

الورع ألا يقبل، وإلا فالإثم على المباشر كما تقدم. وقلنا إنا الإثم على المباشر لأن النبيّ صلى الله عليه وسلم كان يتعامل مع اليهود، وهم يتعاملون بالربا. وربما يدعون النبيّ صلى الله عليه وسلم فيجيب دعوتهم وهم يتعاملون بالربا.

“Dari sudut ke-wara’-an (keapikan seseorang terhadap halal haram) hendaknya tidak ia terima. Namun jika ia terima maka dosanya adalah pelaku langsung dari perbuatan dosa tersebut sebagaimana penjelasan terdahulu. Dan kami katakan sesungguhnya dosanya atas pelaku langsung. Karena Nabi shallallâhu ‘alayhi wasallam berinteraksi dan bertransaksi dengan orang Yahudi sementara mereka ini para pelaku riba. Kadangkala mereka mengundang Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam dan beliau hadir memenuhi undangan mereka (makan di dalamnya) dalam keadaan mereka sebagai pelaku riba.” (Tuhfatul Mujîb, hal 57-58)

baca juga :  Hukum Melepas Alat Resusitasi Pada Pasien

Maka menerima hadiah atau pemberian dari seseorang yang bekerja di sektor haram dibolehkan. Berdasarkan kepada perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang suka menerima pemberian ataupun memenuhi undangan orang-orang yahudi kala itu. Padahal orang-orang yahudi rata-rata pelaku riba.

Ketika harta mereka berpindah kepada kita maka statusnya berubah menjadi halal, sebab kita bukan pelaku langsung perbuatan haram tersebut.

Wallahu Waliyyut Taufiiq
Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I. (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor: Adnan Aliyyudin

(Visited 37 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *