Hukum Mendo’akan Peninggal Shalat Ketika Sudah Meninggal

Pertanyaan:

Ustadz bagaimana hukumnya mendo’akan keluarga kita yang sudah meninggal tetapi semasa hidupnya tidak pernah sholat.

● Apakah termasuk sama dengan mendo’akan orang kafir?

● Apakah do’a tersebut akan diterima?

Syukron wa jazaakallaahu khayran.

Jawaban:

Bismillah, walhamdulillah

wash shalaatu wassalaamu ‘alaa rasuulillahi, Ammaa ba’du,

Sebelum kita membahas status do’a untuk orang meninggal yang tidak shalat sepanjang hidupnya, maka kita akan bahas terlebih dahulu status orang yang meninggalkan shalat tersebut dalam kaca mata syari’ah.

Dimaklumi bahwa shalat fardhu yang lima waktu itu hukumnya wajib dilakukan, bahkan ia salah satu rukun diantara rukun Islam. Meninggalkannya merupakan kekejian, dan kejahatan serta termasuk dosa besar. Dosa meninggalkannya lebih besar dari membunuh, mencuri, berzina, dan sebagainya.

Bagaimana status orang yang meninggalkan shalat tersebut. Kita akan rinci sebagai berikut:

-sponsor-
style="text-align: justify;">Golongan Pertama:

Jika ia meninggalkan shalat karena menolak kewajiban shalat, maka ia dihukumi kafir murtad berdasarkan ijma’.

Imam An Nawawi rahimahullah mengatakan:

إذا ترَك الصلاةَ جاحدًا لوجوبها، أو جَحَدَ وجوبَها ولم يتركْ فِعلَها في الصورة، فهو كافرٌ مرتدٌّ بإجماعِ المسلمين

“Jika seseorang meninggalkan shalat karena mengingkari wajibnya shalat, atau ia mengingkari wajibnya shalat walaupun tidak meninggalkan shalat, maka ia kafir murtad dari agama Islam berdasarkan ijma ulama kaum Muslimin” (Al Majmu’, 3/14).

Golongan Kedua: 

Jika ia meninggalkan shalat karena malas tapi tidak menolak kewajiban shalat, maka ini diperselisihkan oleh para ulama.

baca juga :  Kapankah Kita Membaca Al Fatihah Bersama Imam?

Sebagian ulama menganggap golongan kedua itu kafir murtad, keluar dari Islam. Ini madzhab Hanabilah. Hukumannya adalah ditegakkan hukum pancung oleh pemerintah. Hukuman tersebut karena kafir murtad.

Sebagian lainnya menganggap tidak kafir, namun berdosa besar. Ditegakkan hukum pancung baginya oleh pemerintah. Ini merupakan pendapat madzhab Syafi’iyyah dan Malikiyah.

Sebagiannya lagi berpendapat tidak kafir. Hukumannya dipenjara sampai mau shalat. Ini madzhab Hanafiyah.

Madzhab manapun itu memandang bahayanya meninggalkan shalat. Hukumannya juga berat.

Allah Ta’ala berfirman:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Dan hendaknya mereka mendirikan shalat dan janganlah menjadi orang-orang yang Musyrik” (QS. Ar Rum: 31).

Allah menyebutkan dalam ayat ini, diantara tanda orang-orang yang menjadi musyrik adalah meninggalkan shalat.

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan” (QS. Maryam: 59).

Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam bersabda:

بَيْن الرَّجل وَبَيْن الشِّرْكِ وَالكُفر ترْكُ الصَّلاةِ

“Pembatas bagi antara seseorang dengan syirik dan kufur adalah meninggalkan shalat” (HR. Muslim no. 82)

إنَّ العَهدَ الذي بيننا وبينهم الصَّلاةُ، فمَن تَرَكها فقدْ كَفَرَ

“Sesungguhnya perjanjian antara kita dan mereka (kaum musyrikin) adalah shalat. Barangsiapa yang meninggalkannya maka ia telah kafir” (HR. At Tirmidziy).

لم يكن أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم يرون شيئا من الأعمال تركه كفر غير الصلاة

“Dahulu para sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak memandang ada amalan yang bisa menyebabkan kekufuran jika meninggalkannya, kecuali shalat” (HR. At-Tirmidziy).

Dan masih banyak dalil lainnya.

baca juga :  Cara Duduk Terakhir Pada Shalat Yang Memiliki 1 Tasyahud

Melihat dalil-dalil tersebut teranglah bagi kita bahayanya meninggalkan shalat. Bahkan ia menjadi salah satu pintu kekufuran dan kesyirikan. Sebab rata-rata yang meninggalkan shalat adalah mengikuti hawa nafsunya, bahkan sebagian menuhankan hawa nafsunya sehingga ia terjatuh pada kesyirikan.

Kemudian bagaimana hukumnya jika mendo’akan orang meninggal namun selama hidupnya meninggalkan shalat?

Dalam melakukan takfir (pengkafiran) terhadap peninggal shalat, hanabilah memiliki tahapannya. Yaitu ditegakkan hujjah dulu oleh pemerintah dengan istitab (dimintai taubat) dulu selama tiga hari, jika tetap menolak barulah divonis kafir. Sementara hal ini hampir merata tidak dilakukan di negara-negara kaum muslimin. Sehingga kita tidak boleh serampangan memvonis kafir.

Jika telah jatuh vonis kafir dari pemerintah bagi peninggal shalat atau kita mengambil pendapat kafirnya orang yang meninggalkan shalat setelah dilakukan tahapan seperti di atas, maka tidak boleh mendo’akan ampunan dan rahmat baginya.

Namun jika tidak ada vonis baginya, atau kita tak memegang pendapat kafirnya peninggal shalat akan tetapi dosa paling besar diantara dosa-dosa besar setelah kesyirikan, maka kita masih boleh mendo’akan ampunan dan rahmat baginya.

قال النووي رحمه الله : وأما الصلاة على الكافر والدعاء له بالمغفرة فحرام بنص القرآن والإجماع

Imam an-Nawawiy -rahimahullah- mengatakan: Adapun menyolati orang kafir, dan mendoakan agar diampuni dosanya, maka ini merupakan perbuatan haram, berdasarkan nash Al-Qur’an dan Ijma’. (al-Majmu’ 5/120).

وقال ابن تيمية رحمه الله: إن الاستغفار للكفار لا يجوز بالكتاب والسنَّة والإجماع

Ibnu Taimiyah -rahimahullah- juga mengatakan: Sesungguhnya memintakan maghfirah untuk orang-orang kafir tidak dibolehkan, berdasarkan Al-Qur’an, Hadits, dan Ijma’. (Majmu’ Fatawa, 12/489)

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni (neraka) Jahim. (at-Taubah: 113)

Diterima atau tidak do’anya, maka itu perkara ghaib yang tidak kita ketahui. Sedangkan hukum mendo’akan orang yang divonis kafir, maka haram hukumnya. Namun jika ia tidak divonis kafir, maka kembali pada asal bahwa mendo’akannya boleh dan diterima In Syaa’ Allah.

Demikian semoga bermanfaat

baca juga :  Hukum Jual Beli Pupuk Dari Kotoran Hewan

Wallahu Waliyyut Taufiiq

Akhukum,

Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor : Dudi Rusdita

(Visited 331 times, 1 visits today)

1 tanggapan pada “Hukum Mendo’akan Peninggal Shalat Ketika Sudah Meninggal”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *