Hukum Menambahkan Nama Pasangan Di Belakang Nama Kita (Bagian 1)

  • oleh

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، أما بعد…

Sebagaimana kita tahu bahwa lazimnya nama yang dicantumkan di belakang nama seseorang adalah orang tuanya, terutama bapak kandung. Biasanya dengan penyematan “bin” atau “binti”. Atau juga tanpa itu semua.

Bukan hanya dengan bapaknya. Terkadang kedua orang tuanya disebutkan dalam deretan panjang namanya. Sebut saja tokoh munafiq Abdullah bin Ubay bin Salul. Ubay adalah bapaknya, sementara Salul adalah Ibunya.

Atau juga ada yang menisbatkan ke kakeknya. Sebut saja Imam Ahmad bin Hanbal. Nama asli beliau adalah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal. Jadi bapak beliau adalah Muhammad, sementara Hanbal adalah kakek beliau.

Atau juga ada yang menisbatkan diri ke nama daerah. Misalnya Abu Hamid Al-Ghazaliy. Itu bukan nama ayahnya, melainkan nama daerah kelahirannya.

Begitu pula An Nawawi yang menisbatkan namanya pada dusun Nawa.

-sponsor-
style="text-align: justify;">Maka jika itu penisbatan yang bukan dalam urusan nasab, maka tidaklah masalah dilakukan. Seperti seseorang menisbatkan pada tempat lahir, kebiasaan, pekerjaan, dan sebagainya.

Atau seseorang yang menisbatkan pada selain bapaknya tapi kepada yang lainnya tapi dalam satu nasab, maka sebagian salaf ada yang masih demikian, karena memang terkenal dengan istilah itu sebelumnya dan sulit dihindari, misalnya.

Di masa-masa sekarang munculah gaya baru dalam penisbatan yaitu seorang wanita yang sudah menikah kemudian menyematkan nama suaminya atau nama akhir suaminya. Misalkan, Maryati menikah pada Suyono Sudiharjo. Kemudian ia menyebut dirinya atau disebut oleh orang lain sebagai Maryati Sudiharjo. Bolehkah demikian?

baca juga :  Hukum Tepuk Pundak Ketika Hendak Bermakmum

Dalam hal ini ada silang pendapat di kalangan mutaakhkhirin. Sebab hal ini berkembang di masa-masa sekarang. Saat tersebarnya kebodohan dan kiblat kaum muslimin mulai diarahkan pada barat dan kaum kuffar.

Ada yang melarang sampai pada taraf mengharamkan. Ada yang membolehkan dengan syarat. Secara umum demikian sepengetahuan kami.

Adapun yang melarang mengemukakan dalil-dalil dan hujjah-hujjah. Diantaranya adalah,

اُدْعُوْهُمْ لِاٰ بَآئِهِمْ هُوَ اَقْسَطُ عِنْدَ اللّٰهِ ۚ ..

“Panggillah mereka (anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang adil di sisi Allah…
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 5)

روى البخاري (3508) أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : (لَيْسَ مِنْ رَجُلٍ ادَّعَى لِغَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُهُ إِلَّا كَفَرَ ، وَمَنْ ادَّعَى قَوْمًا لَيْسَ لَهُ فِيهِمْ – أي نسب – فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ).

Al Bukhariy meriwayatkan (3508) bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda : ” Bukanlah seseorang dipanggil dengan selain nama bapaknya sementara ia mengetahuinya kecuali ia telah kufur. Dan sesiapa yang dipanggil/dinisbatkan pada suatu kaum padahal ia bukan dari kaum tersebut, maka hendaknya ia menyiapkan tempat duduknya di neraka.”

وقال صلى الله عليه وسلم : ( مَنْ انْتَسَبَ إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ .. فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ ) رواه ابن ماجة (2599) وصححه الألباني في صحيح الجامع (6104).

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: ” Sesiapa yang menisbatkan dirinya pada selain bapaknya, maka baginya laknat Allah, MalaikatNya, dan manusia seluruhnya.” (HR. Ibnu Majah 2599, di shahihkan Al Albaniy dalam shahihil jaami’ 6104)

baca juga :  Hukum Shalat Ketika Menyadari Ada Najis Menempel Di Pakaian Setelah Shalat Selesai

Dalil pertama menunjukkan bahwasanya penisbatan kepada ayah itu lebih berhak dan adil. Maka jika selain demikian itu bukan berupa keadilan, tapi kedzhaliman.

Kemudian dalil kedua dan ketiga. Serta dalil-dalil lain yang tidak ana sebutkan disini dari muttafaq ‘alayh. Merupakan nushūsh (nash-nash) yang sharihah (jelas/tegas) akan terlarangnya penisbatan seseorang pada selain bapaknya meskipun hanya sebuah nama, bukan nasab secara haqiqi. Bahkan ia menunjukkan bahwa perbuatan tersebut bagian dari dosa besar karena ancaman yang sangat berat akan hal tersebut.

Selanjutnya, intisab pada suami. Akan dibahas di bagian berikutnya, InSyaaAllah.

Akhukum,
Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor : Tasyim

(Visited 98 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *