Hukum Menambahkan Nama Pasangan Di Belakang Nama Kita (Bagian 3)

  • by

بسم الله الرحمن الحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
أما بعد

Dari beragam penjelasan sebelumnya, kita coba mengambil sejumlah faedah dan kesimpulan.

Islam jelas mengecam keras mereka yang mencantumkan nama orang lain di belakang namanya secara biologis. Sebab itu bentuk pengingkaran terhadap bapak kandung sendiri. Ini bagian dari kufur nikmat dan kedurhakaan. Bukan kufur akbar yang mengeluarkan seseorang dari Islam. Namun masuk pada kabāir.

Pencantuman nama suami di belakang nama istri jelas tidak dimaksudkan untuk penisbatan biologis. Sehingga sebagian ulama mutaakhkhirin ada yang membolehkannya. Namun ada juga yang tetap melarangnya secara mutlak.

Adapun para ulama yang melarang, mereka melihat secara dzhahir nash dan melihat adanya “komplikasi” semisal tasyabbuh dan sebagainya sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Ini berangkat dari ihtiyāth (upaya berhati-hati) dan sebagai Saddan

-sponsor-
lidz Dzarī’ah (menutup semua potensi yang mengarah pada keharaman). Agar manusia tidak bermudah-mudahan dalam menyematkan nama.

Sebagian ulama yang membolehkan tentunya bukan tanpa hujjah. Tidak ada satupun dalil yang ditentang. Mereka hanya mengambil pendalilan yang berbeda dari dalil-dalil tersebut. Setiap dalil tentu ada dalālah (penunjukkan) dan maksud ke arah mana. Ini yang mereka perhatikan.

Terkait dengan Tasyabbuh bil kuffār. Maka ada 2 sudut pandang disini. Apakah ia benar-benar tasyabbuh yang benar-benar dilarang sebagaimana yang dimaksud dalil, ataukah ada sisi lain yang membuat sebenarnya ia bukan termasuk tasyabbuh? Apakah ada rukhshah dalam hal tersebut jika memang sudah menjadi ‘urf?

Ibnu Nujaim Al Hanafiy dalam Al Bahrur Rā-iq :

اعلم أن التشبه بأهل الكتاب لا يُكره في كل شيء، وإنا نأكل ونشرب كما يفعلون، إنما الحرام هو التشبه فيما كان مذموماً وفيما يقصد به التشبه..

” Ketahuilah bahwasanya Tasyabbuh pada ahli kitab bukan berarti dilarang pada semua hal, karena kita juga makan dan minum sebagaimana mereka juga makan dan minum. Sesungguhnya yang haram itu dalam perkara-perkara tercela saja dan yang memang dimaksudkan untuk menyerupai mereka.”

Sehingga dalam perspektif Ahnāf (pengikut Hanafiyah) semisal Ibnu Nujaim, jika tidak sengaja memaksudkan untuk tasyabbuh ya bukan tasyabbuh. Sehingga mafhum-nya adalah apa yang dilakukan oleh kebanyakan awam kita dengan meletakkan nama suami di belakang nama mereka pada dasarnya mereka tidak memaksudkan hal tersebut untuk tasyabbuh. Mungkin kata “tasyabbuh” saja mereka tidak faham. Maka dalam hal ini tidak bisa digeneralisir alias dipukul rata.

Syaikh Fayiz Ash Shalah mengatakan,

أما إذا كان مما يخصهم، ولكنه انتشر بين المسلمين وتفشى في زمان دون زمان أو مكان دون مكان ولم يكن محرما في ديننا فهذا يخرج من دائرة التشبه

” …Adapun jika ia bagian dari apa-apa yang menjadi kekhususan mereka (kuffar), akan tetapi ia terkadang tersebar di kalangan muslimin serta tersebar merata dari zaman ke zaman dan satu tempat ke tempat lainnya maka ia tidak jadi haram dalam agama kita dan keluar dari lingkaran tasyabbuh.”

Al Hafidzh Ibnu Hajar Al Asqalāniy dlm Fathul Baari mengatakan,

“وقد كره بعض السلف لبس البُرنُس لأنه كان من لباس الرهبان، وقد سئل مالك عنه فقال: لا بأس به، قيل: فإنه من لبوس النصارى قال كان يلبس ههنا”انتهى

“Dan sungguh sebagian salaf tidak menyukai al Burnus karena ia termasuk pakaian para pendeta. Dan sungguh telah ditanya Imam Malik tentangnya kemudian beliau menjawab: Lā ba‘sa bihi (tidak mengapa). Dikatakan lagi padanya: padahal ia pakaian Nashara loh Imam! Kemudian beliau menjawab lagi: karena ia sudah banyak dipakai disini. Selesai pengutipan.
(lihat Fathul Bāriy jilid 10/272)

مبيناً أن ما استفاض عند المسلمين حتى صار من شعارهم لا يعد تشبهاً بالكفار حتى ولو كان مما يفعله الكفار- ، في معرض حديثه عن حكم لبس الطيلسان: “وإنما يصلح الاستدلال بقصة اليهود في الوقت الذي تكون الطيالسة من شعارهم، وقد ارتفع ذلك في هذه الأزمنة فصار داخلاً في عموم المباح…”

Dan telah berkata Ibnu Hajar lagi di Fathul Bāriy sebagai penjelas bahwasanya apa-apa yang sudah tersebar luas (serta dianggap biasa) oleh kaum muslimin meski tadinya bagian dari syi’ar mereka (kuffar) maka tidak dihitung sebagai Tasyabbuh bil kuffar wlaupun ia dari apa-apa yang masih terus dilakukan oleh kuffar. Sebagai gambaran haditsnya tentang hukum mengenakan thaylasan (kisa’ hijau yang merupakan baju kebesaran ahli ilmu yahudi): “Ianya dijadikan pengambilan dalil dengan kisah Yahudi di satu waktu menjadikan thayalasah sebagai syi’ar mereka. Dan sungguh hal tersebut viral di zaman sekarang-sekarang ini, maka ia termasuk pada keumuman hukum mubah…”

Senada dengan Ibnu Hajar dan Imam Malik, serta sebagian salaf lainnya yaitu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dlm Iqtidha Shirathil Mustaqim-nya.

Ini menunjukkan, bahwa penyematan nama suami di belakang nama istri tidak mesti langsung terlarang jika ianya memang hal yang sudah tersebar luas di kalangan kaum muslimin serta tidak dimaksudkan tasyabbuh. Meskipun hal tersebut sampai saat ini mungkin masih digunakan kaum kuffar. Ia bisa menjadi perkara mubah sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama di atas.

Apalagi jika sifatnya hanya lil-I’tiraf saja agar mudah dikenali, bukan secara hakiki penisbatan nasab. Tentu tidak masalah.

Adapun terkait Al Miqdad bin Al Aswad maka hal itu karena beliau dahulu sempat ada masalah dengan kaumnya kemudian melarikan diri untuk menyelamatkan diri dan kaumnya. Yang pada akhirnya bertemu Al Aswad yang ternyata tidak punya anak. Diangkatlah ia sebagai anak angkat oleh Al Aswad. Dipanggillah ia menjadi Miqdad bin Al Aswad. Ketika turun ayat 5 Al Ahzab barulah ia kembali dipanggil dengan Miqdad bin Amr.
Namun sayang, ia kadang terkenal dengan nama Miqdad bin Al Aswad radhiyallahu ‘anhu.

Begitupula terjadi pada para Aimmah semisal Imam Ahmad, maka itu karena i’tiraf saja. Agar dikenali karena kadang terkenal demikian. Tentu hal ini tidak masuk dalam kategori yang dilarang.

Dimaklumi bahwa Al-Haq itu tidak selalu ada hanya pada satu-dua ulama dan ustadz saja. Ahlussunnah haruslah inshaf dan mu’tadil dalam masalah ini. Bukan berarti jika kita berbeda pandangan dengan satu “ustadz sunnah” atau “Syaikh Sunnah” misalkan, kemudian kita telah keluar jalur atau mereka yang salah. Tidak demikian tentunya. Sebab aib bagi seseorang penuntut ilmu bahkan alim untuk fanatik pada satu individu atau beberapa individu tanpa inshaf dalam memandang dalil.

Mauqif kami dalam perkara ini adalah mencoba mengambil thariqatul jam’i yaitu mengompromikan kedua pendapat tersebut yang berbeda. Yaitu,
Jika memang seseorang itu intisabnya memang karena ia dengan sengaja mengubah nasab secara haqiqi, maka ini jelas keharamannya. Bahkan masuk dalam dosa besar.

Jika seseorang hanya menyematkan nama orang lain setelah namanya, atau ia tanpa bermaksud begitu tapi terkadang dipanggil oleh orang-orang dengan panggilan demikian hingga terkenalnya demikian, maka ini tidak masalah. Namun jika ia bisa mengubahnya dan meng-konfirmasikan hal tersebut pada khalayak tentu itu lebih utama.

Jika hal tersebut belum terjadi pada seseorang, hendaknya ia menghindari saja sebagai bentuk kehati-hatian.
Jika sudah terjadi pada kebanyakan manusia, maka hindarkan diri dari lisan tidak terjaga membabi buta menyalah-nyalahkan mereka secara general alias pukul rata.

Hendaknya seseorang untuk keluar dari khilaf ini demi sebuah keutamaan dan kehati-hatian sebagaimana kaidah sebagian salaf,

الجروج من الخلاف أولى

“keluar dari khilaf lebih prioritas”. Dalam artian “mengamankan” diri dan keluarga dari apa-apa yang diperselisihkan oleh para ulama dan belum jelas hukumnya yaitu dengan menjauhi yang diperselisihkan itu tanpa mengingkari yang terkadang masuk pada salah satu pendapat atau telah memilih salah satu pendapat.

Mereka yang telah memilih salah satu pendapat yang diperselisihkan tidak lantas salah dan bukan ahlussunnah. Sepanjang mereka faham dalil, pendalilan, dan hujjah, serta mereka yakin akan kebenaran pendapat yang mereka pegang, apalagi ada sandaran dari salaf dan kaidah-kaidah agama yang telah baku, maka mereka tetap sama-sama meniti jalan ahlussunnah jika memang pada asalnya mereka memang ahlussunnah.

Demikian semoga mencerahkan dan memberi jalan keluar biidznillah..

Wallahu Waliyyut Taufiiq

Akhukum,
Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor : Tasyim

(Visited 28 times, 1 visits today)
baca juga :  Berbuat Ihsan Pada Binatang Ternak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *