Hukum Menambahkan Nama Pasangan Di Belakang Nama Kita (Bagian 2)

  • by

بسم الله الرحمن الحيم

…الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، أما بعد

Selanjutnya, intisab pada suami atau keluarganya adalah bentuk taqlid dzhahir pada kuffar. Merekalah yang pertama kali memunculkan bid’ah ini. Sementara kita diperintah untuk menyelisihi mereka.

Sudut lainnya. Bahwasnya intisab ini di dalamnya ada yang namanya menghinakan diri si wanita tersebut. Sebab itu menjadikan si wanita menjadi milik si lelaki sebagaimana kepemilikan budak, atau kepemilikan suatu barang. Maka berkuranglah kemualiaannya dan haknya dalam menjaga nasabnya sebagaimana fithrahnya yang sudah Allah gariskan fithrah tersebut atas manusia.

Kemudian, bagaimana dengan pendapat yang membolehkan dengan syarat? Apakah mereka memiliki hujjah?

Hujjah mereka,
Sudut pertama, surat Al Ahzab ayat 5 itu berupa perintah, namun juga penting untuk dilihat bagaimana sababun nuzul atau sebab turunnya ayat

-sponsor-
tersebut.

Ayat tersebut turun sebagai bentuk penolakan Islam terhadap kebiasaan jahiliyyah waktu itu. Banyak di masa itu yang menyematkan nama seseorang dengan nama bukan ayah kandungnya. Sebagai contoh panggilan para sahabat pada Zaid bin Haritsah dengan nama Zaid bin Muhammad. Dan memang kebiasaan dahulu menyematkan nama tuannya di belakang nama budaknya. Nah, tentulah ayat ini untuk meluruskan hal tersebut. Lalu semua beralih memanggil zaid dengan Zaid bin Haritsah. Ya sekaligus juga sebagai bentuk larangan bahwa tidak boleh memanggil nama seseorang dengan bukan nama ayah kandungnya. Hal ini dijelaskan dalam tafsir ibnu katsir.

Sudut berikutnya
Sebenarnya apa yang dilarang itu?
Kalau kita lihat dengan seksama, maka yang dilarang dalam syari’ah itu adalah menyematkan nama selain ayah kandung dengan redaksi peranakan atau redaksi nasab yang hakiki. Semisal penyematan nama nasab dengan “bin” atau “binti”. Sehingga jika tidak ada redaksi yang menunjukkan kesana, maka tidak serta merta menjadi sesuatu yang terlarang. Buktinya para salaf kita banyak yang menyematkan di belakang namanya dengan bukan nama ayah kandungnya. Mereka demikian itu lil i’tirof (supaya mudah dikenal) dan bukan secara hakiki menisbatkan sebagai anak mereka. Kalau ada “bin” atau “binti”, disertai dengan maksud untuk intisab haqiqi, maka ini yang masuk kategori terlarang.

baca juga :  Hukum Melepas Alat Resusitasi Pada Pasien

Kalau semua dipukul rata tanpa memperhatikan redaksi, maka terlalu mudah kita akan menghukuminya secara umum. Sebagai contoh adalah sebutan kita terhadap murid kita, “wahai anakku” atau dalam bahasa arab dengan sebutan “Ya Bunayya“. Apakah kita bermaksud menjadikan murid-murid kita sebagai anak kita yang hakiki? tentu tidak bukan?. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam sering mengatakan demikian pada anak-anak sahabat. Padahal secara redaksi cukup “berbahaya” terhadap nasab bukan? Namun sekali lagi, itu tetap dibolehkan karena memang tidak ada maksud untuk intisab secara haqiqi.

Al Alusiy dalam Ar Rūhul Ma’āniy menjelaskan penisbatan nama secara biologis kepada selain orang tua itu dilarang kalau dilakukan secara sengaja dan memang bermaksud demikian secara hakiki,

وظاهر الآية حرمة تعمد دعوة الإنسان لغير أبيه، ولعل ذلك فيما إذا كانت الدعوة على الوجه الذي كان في الجاهلية، وأما إذا لم تكن كذلك كما يقول الكبير للصغير على سبيل التحنن والشفقة يا ابني وكثيرا ما يقع ذلك فاظاهر عدم الحرمة

“Secara lahiriyah, ayat ini mengharamkan dengan sengaja penyebutan nisbat seseorang kepada selain bapaknya. Bisa jadi keharaman itu karena penyebutan nama dilakukan seperti tradisi masyarakat jahiliyyah. Sedangkan panggilan yang berbeda dengan konsep penyebutan nama dalam jahiliyah seperti bentuk panggilan orang dewasa kepada yang lebih muda dengan sebutan hai anakku dan banyak sapaan kasih-sayang dan ramah-tamah serupa itu, secara dzhahir tidaklah haram.”

Sudut lainnya,
Nampaknya bukan hal yang tabu lagi belakangan ini seorang istri menyematkan nama suaminya di belakang namanya sendiri. Bukan hanya di kita, tapi juga mancanegara. Walau kita tahu itu adat barat. Namun kita bisa menilai secara obyektif, apakah semua yang datang dari barat itu negatif dan harus ditinggal? Maka tentunya tidak demikian. Jika memang ia tidak melanggar syari’ah misalkan, maka tidak serta merta terlarang dan ditinggalkan.

baca juga :  Hukum Menambahkan Nama Pasangan Di Belakang Nama Kita (Bagian 3)

Selain itu, karena sudah menjadi kebiasaan yang tersebar hampir merata, dan manusia ketika membaca nama si wanita pun akan mengerti bahwa di belakang namanya itu nama suaminya, bukan nama bapaknya. Penyematan itu bukan berarti secara hakiki bahwa si suami itu ayahnya si wanita, juga tidak membatalkan statusnya seorang anak dari ayah kandungnya yang asli. Nampaknya orang sudah faham dan biasa sekali dengan keadaan ini. Mereka kalau ditanya satu persatu nampaknya tidak ada yang beranggapan bahwa nama di belakang itu pasti nama ayah kandung. Tidak selalu. Sehingga penyematan tidak selalu berarti pe-nasab-an. Adakah masalah disini? Jika tidak ada masalah, maka ia menjadi ‘Urf yang teranggap dalam syari’at, dalam artian dibolehkan. Sebagaimana dalam kaidah  “العادة محكمة” yaitu suatu kebiasaan selama tidak menabrak dinding syari’at maka teranggap.

Sudut lain lagi,
Terkait hadits,

عن أبي ذر رضي الله عنه أنه سمع النبي صلى الله عليه وسلم يقول ليس من رجل ادعى لغير أبيه وهو يعلمه إلا كفر

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: ” Tiada seorangpun yang menisbatkan diri kepada selain bapaknya dengan sengaja melainkan ia menjadi kufur.” (HR. Al Bukhāriy).

Badruddin Al-Aini dalam ‘Umdatul Qāri Syarhu Shahihil Bukhari menjelaskan maksudnya,

ويروي إلى غير أبيه قوله وهو يعلمه جملة حالية أي والحال أنه يعلم أنه غير أبيه وإنما قيد بذلك لأن الإثم يتبع العلم وفي بعض النسخ إلا كفر بالله ولم تقع هذه اللفظة في رواية مسلم ولا في غير رواية أبي ذر فالوجه على عدم هذه اللفظة أن المراد بالكفر كفران النعمة أو لا يراد ظاهر اللفظ وإنما المراد المبالغة في الزجر والتوبيخ أو المراد أنه فعل فعلا يشبه فعل أهل الكفر

baca juga :  Alasan Imam Malik Menganggap makruh Shaum 6 Hari Bulan Syawwal

“ (Kepada selain bapaknya) dan (dengan sengaja) kalimat hal atau penunjuk waktu kekinian. Artinya ia saat itu sadar bahwa nama penisbatan di belakang namanya itu bukanlah bapaknya. Penisbatan itu dikaitkan dengan kesengajaan karena kesalahan dianggap dosa ketika dilakukan dengan sengaja. Sebagian naskah menyebut, ‘kufur kepada Allah’ yang mana hal ini tidak terdapat dalam riwayat Muslim. Dan tidak ada pada riwayat selain Abu Dzar. Tidak adanya penyebutan ‘kufur kepada Allah’ bisa jadi dipahami sebagai kufur nikmat atau maksudnya tidak seperti yang tertera secara harfiah. Tetapi maksudnya adalah penegasan larangan dan aib atas penisbatan seseorang kepada orang lain yang bukan bapak kandungnya. Hadits itu juga bisa dipahami bahwa penisbatan itu merupakan perilaku yang serupa dengan perbuatan orang kafir.” (Lihat Badruddin Al-Aini, ‘Umdatul Qari Syarhu Shahihil Bukhari, juz 24, halaman 35).

Dari rupa-rupa penjelasan di atas, kita coba mengambil sejumlah faedah dan kesimpulan akan dibahas pada bagian selanjutnya. InSyaaAllah.

Wallahu Waliyyut Taufiiq

Akhukum,
Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor : Tasyim

(Visited 23 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *