Hukum Meminta Perkara Dunia Dalam Shalat

  • by

Penanya:

Bagaimana hukum minta mobil, minta jodoh, minta rumah, dan semisalnya di tasyahud akhir dalam shalat, bolehkah?

Jawaban:

Ada 2 pendapat disini. Pertama, pendapat yang melarang. Bahkan bisa membatalkan shalat. Ini pendapat sebagian Hanabilah.

Seperti dalam kitab Akhsharul Mukhtasharat Imam Ibnu Badran Al-Hanbaliy menulis,

وتبطل بدعاء أمر الدنيا

“Dan batal shalat dengan do’a minta perkara dunia.” (Akhsharul Mukhtasharat, hal. 114, cet. Dārul Basyā-ir al-Islāmiyyah)

Syaikh Muhammad Nashir al-‘Ajmiy memberikan komentar,

أي بما يكون مختصا بالدنيا كقوله: اللهم ارزقني دارا واسعة وبساتين. وأما لو قال: اللهم ارزقني مالا لأنفقه في الخير ودارا واسعة لضيفان فلا تبطل.

“Yaitu do’a yang dikhususkan untuk kepentingan dunia saja. Seperti perkataan: ‘Ya Allah berikan rizqi padaku berupa rumah yang luas beserta kebun-kebun’. Adapun apabila ia

-sponsor-
berdo’a: ‘Ya Allah rizqikan padaku harta agar aku bisa berinfaq dalam kebaikan dan rumah yang luas untuk menjamu para tetamu’, maka tidak membatalkan shalat.”

Sehingga maksud larangan tersebut tidak umum.

Pendapat kedua adalah membolehkan. Mereka berdalil dengan hadits dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,

ثم يتخير من المسألة ما شاء. (رواه البخاري ومسلم)

“…Kemudian seseorang memilih dari permintaan sekehendaknya.” (Riwayat Al-Bukhariy dan Muslim)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin mengatakan,

وقوله «ما شاء» لفظ عام؛ لأن (ما) اسم موصول، والاسم الموصول يفيد العموم، فيقتضي جواب الدعاء بما شاء من أمور الدين وأمور الدنيا والآخرة…

baca juga :  Membaca Quran Dan Dzikir Tanpa Menggerakkan Lidah Dan Bibir

“Perkataan, ‘ما شاء’ (sekehendaknya) disini lafadzhnya umum. Karena  ما  merupakan Isim Maushul, dan isim maushul itu memberi faedah umum. Sehingga itu berkonsekuensi bahwa jawaban dari do’a ‘sekehendaknya’ tersebut masuk di dalamnya perkara agama, perkara dunia dan akhirat.”

Adapun kami menguatkan pendapat yang kedua. Karena alasan yang telah dikemukakan Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah tadi. Selain itu ada beberapa dalil lain yang mendukung pendapat ini. Diantaranya,

ليسأل أحدكم ربه حاجته حتى يسأله الملح وحتى يسأله شسع نعله إذا انقطع

“…Hendaknya salah seorang dari kalian meminta kepada Rabb-nya seluruh kebutuhannya hingga urusan meminta garam atau minta sandal sekalipun jika ia putus.” (Riwayat at-Tirmidziy)

Dalam hadits tersebut tidak dijelaskan bahwa dalam urusan dunia semisal garam dan tali sandal saja kita disuruh meminta pada Allah dan itu dibolehkan. Hal ini menunjukkan bahwa tidak mengapa seseorang meminta urusan dunia baik di dalam ataupun di luar shalat. Hanya saja, jika merujuk pada pendapat sebagian Hanabilah maka akan kita dapati adab yang baik, yaitu menyertakan urusan akhirat dalam harapan-harapan duniawi kita.

Maka, meminta rumah, jodol, mobil, dan sejenisnya boleh diminta di akhir tasyahud asalkan dengan bahasa Arab. Dan alangkah lebih baik jika menyertakan niat akhirat dalam do’a tersebut.

Wallahu Waliyyut Taufiiq

Beusi yang hangat, 19 Dzulqa’dah 1441 H

Muhibbukum,
Al-Faqiir ilallah Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

baca juga :  Alasan Dari Do’a

Editor: Adnan Aliyyudin

(Visited 52 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *