Hukum Membunuh Hewan Secara Sia-Sia

  • by

Penanya:

Ustadz, bagaimana hukumnya kita membunuh binatang hanya karena kita geli melihatnya?

Jawaban:

Tidak dibolehkan membunuh hewan secara sia-sia. Karena mereka makhluq memiliki ruh. Rasul shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

لا تَتَّخِذُوا شَيْئًا فِيهِ الرُّوحُ غَرَضً

“Jangan jadikan makhluq bernyawa sebagai sasaran lemparan (pembunuhan)”. (Riwayat Muslim).

An-Nawawiy menggolongkannya kedalam keharaman dan dosa, sebab hadits lain menyebutkan,

إن رسول الله صلى الله عليه وسلم لعن من فعل هذا

“Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam melaknat orang yang melakukan tindakan seperti itu (pembunuhan hewan secara sia-sia)”. (Riwayat Al-Bukhariy dan Muslim)

Secara sia-sia maksudnya bukan untuk dimanfaatkan dalam kemashlahatan, dan dalam keadaan ia tidak mengganggu dan membahayakan.

Rasulullah bersabda tentang orang yg membunuh ‘Usfur secara sengaja, maka ‘Usfur tersebut akan mengadu pada Allah

-sponsor-
di hari kiamat,

يَا رَبِّ اِنَّ فُلاَنًا قَتَلَنِى عَبَثًا وَ لَمْ يَقْتُلْنِى مَنْفَعَةً

“Ya Rabb, sungguh si fulan ini membunuhku secara sia-sia dan tidak membunuhku dalam rangka mengambil manfaat.” (Riwayat An-Nasai dan Ibnu Hibban).

Maka sebagian ulama sampai menggolongkan dalam dosa besar jika sebuah ancaman disertai laknat.

Oleh karenanya, jika hewan tersebut menjijikkan tapi tidak membahayakan, maka cukup diusir saja atau diambil, dan dibuang saja dalam keadaan hidup.

Namun jika ia binatang mengganggu seperti pengerat (tikus) maka tidak mengapa membunuhnya asal tidak dibakar api atau disetrum, namun dibunuh langsung saja.

baca juga :  Menjawab Syubhat Melihat Nabi Dalam Keadaan Terjaga (Bagian 1)

Islam agama yang rahmat, bukan hanya pada manusia, tapi juga pada hewan. Dalam membunuh hewan pun kita harus memperhatikan akhlaqnya. Allah berfirman,

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’ : 107)

Sehingga, lintah, cacing, dan semisalnya tidak boleh dibunuh begitu saja, kecuali hewan-hewan yang memang dibolehkan membunuhnya berdasarkan dalil-dalil semisal ular, anjing hitam, dan sebagainya.

Bagaimana jika sudah terlanjur pernah melakukan?

Istighfar dan bertaubat.

Wallahu Waliyyut Taufiiq.

Akhukum,
Al-Faqiir ilallah Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I. (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor: Adnan Aliyyudin

(Visited 30 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *