Hukum Membaca Kitab Suci Agama Lain

Penanya:

“Ustadz, bagaimana hukumnya membaca kitab suci agama lain hanya untuk sekedar ingin tahu?”

Jawaban:

Alhamdulillâh, wash shlâtu wassalâmu ‘alâ Rasûlillâh…

Ammâ ba’du,

Wajib bagi setiap kita untuk mengenal al-Haq (kebenaran) dan mengenal Agama yang benar, serta menyibukkan diri mencari ilmu yang bermanfaat. Kemudian setelah itu barulah kita mencari perkara-perkara yang menyelisihi kebenaran supaya kita berhati-hati darinya.

Adapun sebagian orang karena kejahilan, sedikitnya tsaqafah islamiyah yang ada pada dirinya, lemah pemahamannya terhadap agama yang haq ini malah langsung membaca buku-buku bathil yang menyelisihi al-Haq. Tentu itu sangat berbahaya baginya.

Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan berkata:

لا يجوز له أن يقرأ الكتاب الباطلة لأنه ربما تنطلي عليه وتأثر على عقيدته وهو لا يدري لأنه يفتقد العلم يميز به بين الحق والباطل…

-sponsor-
style="text-align: justify;">“Tidak boleh baginya membaca buku bathil karena boleh jadi itu akan menipunya dan mempengaruhi aqidahnya sementara ia dalam keadaan tidak tahu, karena ia bisa menghilangkan ilmu yang mana dengan ilmu tersebut akan perbedaan antara haq dan bathil…” (Majmū’ Fatâwâ Syaikh Shâlih bin Fauzân al-Fauzân, hal. 68)

Sebenarnya seseorang ketika sudah mengenal Al-Haq ia sudah sangat cukup dengannya. Ia akan mengenal jalan-jalan kesesatan dengan sendirinya jika ia benar-benar mempelajari Agama Islam ini dengan baik. Kecuali jika ia benar-benar telah belajar Agama Islam dengan baik kemudian ia mempelajari kaidah-kaidah kebathilan untuk menjauhinya dan semakin istiqamah diatas kebenaran. Sebab kalau tidak demikian maka agama seseorang bisa terancam.

baca juga :  Apakah Jika Mendapati Ruku' Imam Berarti Dihitung 1 Raka'at?

Rasul shallallahu ‘alayhi wasallam pernah memarahi ‘Umar bin Khaththab karena hal ini:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ الَّله أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَتَى النَّبِيَّ بِكِتَابٍ أَصَابَهُ مِنْ بَعْضِ أَهْلِ الْكُتُبِ فَقَرَأَهُ النَّبِيُّ فَغَضِبَ فَقَالَ: أَمُتَهَوِّكُونَ فِيهَا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ  لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً لَا تَسْأَلُوهُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُخْبِرُوكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوا بِهِ أَوْ بِبَاطِلٍ فَتُصَدِّقُوا بِهِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوسَى كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي

Dari Jâbir bin ‘Abdillâh radhiyalláhu ‘anhumâ, Suatu saat ‘Umar bin al-Khaththâb radhiyallâhu ‘anhu menghadap Nabi shallallâhu ‘alayhi wa sallam dengan membawa sebuah kitab yang ia dapatkan dari sebagian Ahli Kitab. Lalu Nabi shallallâhu ‘alayhi wa sallam membacanya. Beliau kemudian marah dan bersabda, “Apakah engkau termasuk orang yang bingung, wahai Ibnal Khaththâb? Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya sungguh aku telah datang kepada kalian dengan membawa agama yang putih bersih. Jangan kalian bertanya sesuatu kepada mereka (Ahlul Kitab) karena (boleh jadi) mereka mengabarkan al-haq kepada kalian namun kalian mendustakan al-haq tersebut, atau mereka mengabarkan satu kebatilan lalu kalian membenarkan kebatilan tersebut. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa ‘alaihissalâm masih hidup niscaya tidak diperkenan baginya melainkan dia harus mengikutiku.” (Riwayat Ahmad, Ad-Dârimi, dll)

Sanad hadits ini dha’if karena ada Rawi bernama Mujalid bin Sa’id. Dia dilemahkan oleh Imam Ahmad, Yahya bin Ma’in, dll.

baca juga :  Cara Mengusap Kedua Telinga Ketika Berwudhu

Hanya saja ia memiliki syawahid (penguat) dari jalur yang dibawakan oleh Abu Ya’la. Sehingga Imam Al-Albâniy menghasankannya dalam Irwâ-ul Ghalîl.

Oleh karenanya, jika anda termasuk orang yang telah bagus pemahaman Islamnya, kuat keilmuannya, maka tak mengapa sekedar mengetahui jalan kesesatan. Namun jika tidak ada udzur dan hajat serta lemah aqidahnya jangan sekali-kali mencobanya.

Wallahu Waliyyut Taufîq

Akhukum,
Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I. (Mudir Ma’had Daar El’ Ilmi)

Editor: Adnan Aliyyudin

(Visited 127 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *