Hukum Kotak Amplop Dalam Walimah (Bagian 1)

Muqadimah :
Sesuatu yang berulang-ulang terjadi di masyarakat adalah bagian dari Al-‘ādah. Sebagaimana kata Ibnu Nuzaim,

العادة هي عبارة عما يستقر في النفوس من الأمور المتكررة المقبولة عند الطباع السليمة

“Sesuatu ungkapan dari apa yang terpendam dalam diri, perkara berulang-ulang yang bisa diterima oleh tabiat yang sehat.”

Karena ada kesamaan substansi, maka sering pula dikatakan ‘Urf.

العرف هو ما تعارف عليه الناس واعتاده في أقوالهم وأفعالهم حتى صار ذالك مطردا أو غالبا

‘Urf adalah apa yang dikenal oleh manusia dan mengulang-ulangnya dalam ucapan dan perbuatan sampai hal tersebut menjadi biasa dan berlaku umum”.

Dan adat itu ada 2 macam, ada adat yang shahihah dan ada yang fasidah (rusak).

Adapun kotak amplop di walimahan itu bagian dari hal yang sudah berjalan ratusan

-sponsor-
tahun dan berlaku umum. Ia pula bukan bentuk ibadah secara dzatnya sehingga tak bisa dikatakan bid’ah. Ia juga tak menjadi perusak di tengah umat sehingga ia terus menerus dilakukan oleh umat, maka tak masuk adat fasidah. Sehingga lebih tepatnya ia ‘Urf yang teranggap dan maqbulah (dapat diterima), InSyaaAllah.

Jika dalam masalah sah tidaknya seorang perempuan dalam shalat (masalah haidh) ditentukan oleh ‘Urf yang berlaku pada mereka, apa lagi urusan kotak amplop ?

Padahal itu urusan shalat, ibadah mahdhah. Tapi masalah kesuciannya salah satunya ditentukan ‘Urf sebagaimana disiratkan dalam hadits shahih Riwayat Al Bukhariy tentang pertanyaan Fathimah binti Abi Hubaisy.

baca juga :  Kaifiyat Duduk Masbuq Ketika Imam Tasyahud Akhir

Begitu pula dalam hal ini,
Allah Ta’ālā berfirman:

وَا لْمُطَلَّقٰتُ يَتَرَ بَّصْنَ بِاَ نْفُسِهِنَّ ثَلٰثَةَ قُرُوْٓءٍ ۗ وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ اَنْ يَّكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللّٰهُ فِيْۤ اَرْحَا مِهِنَّ اِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰخِرِ ۗ وَبُعُوْلَتُهُنَّ اَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِيْ ذٰلِكَ اِنْ اَرَادُوْۤا اِصْلَاحًا ۗ وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِيْ عَلَيْهِنَّ بِا لْمَعْرُوْفِ ۖ وَلِلرِّجَا لِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ ۗ وَا للّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

“Dan para istri yang diceraikan (wajib) menahan diri mereka (menunggu) tiga kali quru’. Tidak boleh bagi mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahim mereka, jika mereka beriman kepada Allah dan hari Akhir. Dan para suami mereka lebih berhak kembali kepada mereka dalam (masa) itu jika mereka menghendaki perbaikan. Dan mereka (para perempuan) mempunyai hak seimbang dengan kewajibannya menurut ‘Urf (cara yang ma’ruf). Tetapi para suami mempunyai kelebihan di atas mereka. Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 228)

Dalam masalah kewajiban dan haq suami istri saja ditentukan juga oleh ‘Urf, maka apa lagi urusan walimahnya.

As-Suyuthiy dlm Al-Asybāh wan Nadzhāir menyebutkan banyak kaidah cabang dalam hal ini. Diantaranya adalah,

انما تعتبر العادة إذا اضطردت أو غلبت

“Adat yang dianggap sebagai pertimbangan hukum itu hanyalah adat yang terus menerus berlaku dan berlaku umum.”

Nah, setelah kta tahu ia bagian dari adat yang teranggap. Maka kita beranjak ke pembahasan berikutnya…

baca juga :  Di Mesjid Atau Di Rumah, Manakah Yang Lebih Utama Bagi Wanita Untuk Shalat?

Apakah kotak amplop masuk kategori tasawwulāt (minta-minta) ?

Apakah ia qardh (hutang) ataukah hibah ataukah hadiah?

Bagaimana kaitan maqashidusy syari’ah dalam hal ini ?

Kita bahas di kesempatan berikutnya. Insyaa Allaahu Ta’ala-.

Muhibbukum,
Abu Hazim Mochammad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I. (Mudir Ma’had Daar El-‘Ilmi)

Editor : Tasyim

(Visited 47 times, 1 visits today)

1 tanggapan pada “Hukum Kotak Amplop Dalam Walimah (Bagian 1)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *