Hukum Jual Beli Pupuk Dari Kotoran Hewan

  • oleh

Pertanyaan:

Afwan ustadz, Bagaimana hukumnya jual beli Pupuk Kandang (dari kotoran hewan)? Soalnya pernah mendengar, “kalau akadnya dengan akad jual beli tidak boleh, tapi kalau akadnya ngasih (nantinya saling memberi), maka diperbolehkan” ?

Jawaban:
Bismillaah wal hamdulillaah washshalaatu wassalaamu ‘alaa Rasulillaahi, waba’du.

Thayyib, untuk tafshil-nya (perinciannya) adalah sebagai berikut:

Halal haramnya jual beli kotoran hewan itu dipengaruhi oleh hal lain yaitu masalah kenajisan kotoran tersebut.

Terkait najis atau tidaknya kotoran itu ada beberapa ketentuan terkaitnya:

1. Dilihat dari hewannya, apakah ia hewan yang haram dimakan dagingnya, ataukah hewan yang halal dimakan dagingnya?

2. Manakah yang kami condong kepadanya?

Pertama, semua ulama sepakat najisnya kotoran hewan dari hewan yang haram dimakan dagingnya seperti babi, anjing dan sebagainya.

Kedua, untuk kotoran hewan yang halal dimakan dagingnya, maka terbagi menjadi 2 pendapat besar, ada yang tetap menganggap najis dan ada yang tidak menganggap najis.

-sponsor-
style="text-align: justify;">Nah, bagaimana penjelasannya tentang kedua pendapat diatas?

Bagi pendapat yang menajiskannya mereka mengangkat beberapa dalil, diantaranya:

Hadits riwayat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ketika Nabi dibawakan 3 bebatuan untuk istijmar (cebok dari buang air besar), kemudian salah satu batunya ternyata dari kotoran kering, maka kemudian Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

…هَذَا رِكْسٌ

“…Kotoran ini Najis!” (HR. Al-Bukhariy, Ahmad dan at-Tirmidziy)

baca juga :  Hukum Berobat kepada Dokter Non Muslim

Sehingga, jika melihat pendapat ini, jual beli kotoran hewan menjadi haram, sebab berarti jual beli barang bernajis. Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

إن الله إذا حرم شيئا حرم ثمنه

“Sesungguhnya Allah apabila telah mengharamkan sesuatu, pasti Ia mengharamkan pula hasil penjualannya.” (HR. Ahmad, Al-Bukhariy, Al-Baihaqiy dll)

Inilah pendapat yang dipegang Syafi’iyyah dan Malikiyah dll.

Adapun pendapat kedua menganggapnya bukan najis, dengan alasan:

1. Hadits Ibnu Mas’ud di atas dijelaskan oleh hadits riwayat Ibnu Khuzaimah yang menyebutkan bahwa kotoran kering yang dibawa Ibnu Mas’ud adalah kotoran keledai jinak, yang mana diketahui bahwa keledai jinak itu haram dimakan dagingnya. Sehingga para ulama meng-qiyaskan bahwa kotorannya sama saja dengan kotoran babi. Berarti ia dihukumi najis karena memang berasal dari hewan yang haram dimakan dagingnya.

2. Kotoran hewan yang halal dimakan itu dianggap bukan najis oleh pendapat kedua ini dengan alasan beberapa dalil, diantaranya:

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يُصَلِّى قَبْلَ أَنْ يُبْنَى الْمَسْجِدُ فِى مَرَابِضِ الْغَنَمِ . متفق عليه

“Dahulu sebelum dibangun Masjid Nabawi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendirikan sholat di kandang kambing.” (Muttafaqun ‘alaih)

Serta hadits perintah Nabi kepada Uraniyyin untuk minum air kencing unta.

Dari sanalah para ulama ini mengambil kesimpulan bahwa hewan yang halal dimakan dagingnya berarti kotorannya tidak najis.

baca juga :  Menentukan Sendiri Dzikir Untuk Orang Sakit

Nah, Berpegang pada pendapat ini, maka sebagian ulama menganggap tidak mengapa jual beli kotoran hewan yang halal dimakan dagingnya untuk dijadikan pupuk sebagaimana pertanyaan diatas.

Dan kami condong pada pendapat yang kedua ini.

Wallahu Waliyyut Taufiiq

Akhukum,
Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor : Dudi Rusdita

(Visited 178 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *