Hukum Imam Bersambung

  • by

Penanya:

Ustadz, sering saya dapati kaum muslimin ketika shalat berjama’ah ketika imam sudah selesai lalu mundur beberapa orang makmum masbuq dan menjadikan makmum sebelahnya menjadi Imam, sehingga Imam menjadi bersambung terus sampai mereka selesai. Bagaimana hukumnya ini? Apakah ada ketentuan demikian?

Jawaban:

Imam bersambung dengan cara demikian memang sering terjadi di Indonesia. Setelah kami mencari penyebabnya maka didapatilah alasan dan argumen yang mereka amalkan itu. Diantaranya,

ﻓَﻤَﺎ ﺃَﺩْﺭَﻛْﺘُﻢْ ﻓَﺼَﻠُّﻮﺍ ﻭَﻣَﺎ ﻓَﺎﺗَﻜُﻢْ ﻓَﺄَﺗِﻤُّﻮﺍ

[ ﺭَﻭَﺍﻩُ ﺍﻟْﺒُﺨَﺎﺭِﻱُّ ﻓِﻲ ﺍﻟﺼَّﺤِﻴﺢِ ]

“… Apa yang kamu dapatkan dari shalat, maka lakukanlah seperti itu, adapun yang tertinggal maka sempurnakanlah kekurangannya.” [HR. Al Bukhariy]

Mereka memahami kalimat ini “Sempurnakanlah kekurangannya” adalah dengan membentuk jama’ah lagi. Alasannya hadits ini,

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻰ ﺳَﻌِﻴْﺪٍ ﺍَﻟْﺨُﺪْﺭِﻱِّ ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ

-sponsor-
ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ ﺍِﺫَﺍ ﺧَﺮَﺝَ ﺛَﻠَﺎﺛَﺔُ ﻓِﻲْ ﺳَﻔَﺮٍ ﻓَﻠْﻴُﺆَﻣِّﺮُﻭْﺍ ﺃَﺣَﺪَﻫُﻢْ

[ ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ]

“Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudriy, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: Apabila tiga orang keluar untuk melakukan safar, maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka untuk menjadi pemimpin.” [HR. Abu Dawud]

Dengan keumuman hadits di atas mereka berargumen untuk menjadikan Imam lagi dalam shalat mereka untuk menyempurnakan kekurangan rakaat.

Namun kalau kita perhatikan kalimat “Sempurnakanlah kekurangannya” ini ditujukan untuk masing-masing atau sendiri-sendiri. Dan inilah yang dipraktekkan oleh para salafush shalih.

baca juga :  Hukum Menambahkan Nama Pasangan Di Belakang Nama Kita (Bagian 3)

Adapun hadits tentang memilih pemimpin dalam safar bukanlah bagian dari kaifiyat shalat. Dan safar bukanlah ibadah yang berkaitan dengan shalat, karena shalat adalah ibadah khusus, sementara safar adalah perkara umum. Berdasarkan kaidah, ibadah yang khusus maka asalnya adalah tauqifiy (berdasarkan ketentuan khusus) dan mengikuti kaifiyat yang telah ditentukan.

ﺍﻷَﺻْﻞُ ﻓِﻰ ﺍﻟﻌِﺒَﺎﺩَﺍﺕِ ﺍﻟﺘَﻮْﻗِﻴْﻒُ ﻭَ ﺍﻟِﺎﺗْﺒَﺎﻉُ

“Hukum asal dalam perkara ibadah adalah sesuai dan mengikuti aturan yang ditetapkan.”

ﺍﻷَﺻْﻞُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻌِﺒَﺎﺩَﺓِ ﺍﻟﺒُﻄْﻠَﺎﻥُ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻘُﻮْﻡَ ﺩَﻟِﻴْﻞٌ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮِ

“Hukum asal dalam perkara ibadah adalah batal sampai tegaknya dalil yang memerintahkannya.”

Dimaklumi bahwa hadits safar tidak bisa dijadikan argumen karena ia tidak bisa diqiyaskan pada ibadah khusus semisal shalat. Selain itu tak ada dalil yang sharih (tegas) adanya kaifiyat Imam bersambung dalam kitab-kitab hadits maupun contoh dari para pendahulu yang shalih. Selain itu pula akan terbentuknya jama’ah-jama’ah baru dalam satu mesjid dengan imamnya masing-masing, dan ini tentunya tidak diharapkan terjadi. Maka kebiasaan Imam bersambung itu menjadi lemah argumennya bagi mayoritas ulama.

Wal akhir, yang tepat adalah makmum masbuq menyempurnakan rakaatnya sendiri-sendiri dan tidak berjama’ah lagi dengan mundur atau maju menjadikan Imam atau menjadikan makmum sesama mereka selaku masbuq.

Wallahu Waliyyut Taufiiq

Muhibbukum,
Al-Faqiir ilallah Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I. (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

baca juga :  Alasan Imam Malik Menganggap makruh Shaum 6 Hari Bulan Syawwal

Editor: Adnan Aliyyudin

Maraaji’:

Shahih Al Bukhariy

Sunan Abu Dawud

‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud

(Visited 54 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *