Hukum Berobat kepada Dokter Non Muslim

  • by

Seseorang bertanya:

Ustadz, bagaimana hukum berobat kepada non muslim menurut syari’at?

Jawaban:

Ibnu Muflih Al Hanbaliy dalam kitabnya Al Adabusy Syar’iyyah mengatakan, “Dan kata Syaikh Taqiyyuddin (Ibnu Taimiyyah), jika seorang Yahudi atau Nasrani ahli dalam kedokteran dan dapat dipercaya, boleh ia diangkat menjadi dokter, sebagaimana ia boleh dititipi harta atau dihubungi dalam hal perdagangan.”

Allah berfirman,

وَمِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ مَنْ اِنْ تَأْمَنْهُ بِقِنْطَارٍ يُّؤَدِّهٖۤ اِلَيْكَ ۚ  وَمِنْهُمْ مَّنْ اِنْ تَأْمَنْهُ بِدِيْنَارٍ لَّا يُؤَدِّهٖۤ اِلَيْكَ اِلَّا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَآئِمًا  ۗ  ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْا لَيْسَ عَلَيْنَا فِيْ الْاُمِّيّٖنَ سَبِيْلٌ ۚ  وَيَقُوْلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ وَ هُمْ يَعْلَمُوْنَ

“Dan di antara Ahli Kitab ada yang jika engkau percayakan kepadanya harta yang banyak, niscaya dia mengembalikan kepadamu. Tetapi ada (pula) di antara mereka yang jika

-sponsor-
engkau percayakan kepadanya satu dinar, dia tidak mengembalikannya kepadamu, kecuali jika engkau selalu menagihnya. Yang demikian itu disebabkan mereka berkata, Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang yang buta huruf. Mereka mengatakan hal yang dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 75)

Dimaklumi bahwa Rasulullah juga pernah menggunakan jasa orang kafir sebagai penunjuk jalan ketika hijrah. Dan beliau shallallahu ‘alayhi wasallam juga mempercayakan Bani Khuza’ah sebagai mata-mata, padahal mereka kafir. Bahkan lebih spesifik lagi, Rasulullah pernah menyuruh berobat ke Harits bin Kaldah, padahal ia juga seorang kafir.

baca juga :  Menyebut Keluarga dan Sahabat Nabi Dalam Shalawat

Karena ini masuk kategori muamalah, yaitu transaksi jasa layanan pengobatan atau kesehatan. Sama halnya ketika kita transaksi jual beli barang. Dan dalam muamalah itu kita boleh bertransaksi dengan orang kafir. Sepanjang tidak ada madharat yang bisa membahayakan kita atau kaum muslimin secara umum.

Akan tetapi jika masih ada dokter ahli dari kalangan muslimin, mengapa kita berat untuk berobat kepada mereka? Tentu pada sesama muslim lebih utama. Allah menyuruh kita saling bekerja sama dalam kebaikan dan taqwa, terlebih lagi dengan yang seagama,

Allah berfirman:

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰى ۖ  وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖ  وَاتَّقُوا اللّٰهَ  ۗ  اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 2)

Maka dibolehkan berobat kepada non muslim jika tak ada dokter muslim yang sepadan dengan mereka. Jika masih ada, maka tidak boleh berobat pada mereka dan berobatlah ke dokter muslim.

Wallahu Waliyyut Taufiiq

Muhibbukum,
Al-Faqiir ilallah Abu Hāzim Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I. (Mudir Ma’had Daar El ’Ilmi)

Editor: Adnan Aliyyudin

Maraaji’:

Fiqih Sunnah
Al Adabusy Syar’iyyah

(Visited 32 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *