Hikmah Dari Diamnya Guru Dan Bebasnya Murid

Bolak – balik Imam At-Tirmidziy memastikan riwayat mana yang paling shahih dari beberapa riwayat yang menjelaskan hadits penggunaan 2 batu dalam istijmar.

Setidaknya ada riwayat Israil, Qais bin ar-Rabî’, Ma’mar, Zuhair, dan Zakariyya yang membuatnya bingung. Manakah yang lebih shahih?

Beliau datang ke ‘Abdullâh bin ‘Abdurrahman (Imam ad-Dârimiy), beliau hanya diam dan tidak memberi keputusan. Datang ke Muhammad bin Ismâ’îl (Imam al-Bukhâriy), beliau juga hanya diam dan tidak memberi keputusan.

Namun, At-Tirmidziy menyimpulkan bahwa Al-Bukhariy lebih cenderung menguatkan jalur Zuhair dari Abi Ishaq. Alasannya karena Al-Bukhâriy memasukannya ke dalam kitab Shahih-nya.

Bagaimana sikap At-Tirmidziy?

Setelah mengetahui bahwa sebenarnya Al-Bukhariy itu seolah -olah cenderung pada riwayat Zuhair, sebenarnya At-Tirmidziy tinggal tutup mata saja. Patuh saja sama pilihan guru. Namun tidak demikian. Selaku salah satu ulama ahli Jarh wat Ta’dil juga At-Tirmidziy tentunya meneliti kembali dan akhirnya

-sponsor-
punya pendapat sendiri. Beliau lebih menguatkan riwayat Israil dan Qais. Alasannya karena إسرائيل أثبت وأحفظ لحديث أبي إسحاق (Israil lebih kokoh dan lebih kuat hafalannya terhadap hadits Abi Ishâq).

Walaupun ternyata pada akhirnya setelah diteliti oleh para ulama setelahnya justru jalur Zuhair yang dipilih Al-Bukhâriy lah yang paling shahih dari semua jalur di atas, para ulama setelahnya menghormati pilihan At-Tirmidziy.

Yang unik disini, kenapa Al-Bukhariy tidak memberitahukan pendapatnya bahwa ia menguatkan Zuhair kepada At-Tirmidziy? Padahal bisa saja Al-Bukhariy “memaksakan” pendapatnya pada muridnya itu,

baca juga :  Untukmu Para Jomblo Dan Orang Tua Para Jomblo

“Hey Abu ‘Isa (At-Tirmidziy), yang kuat itu riwayat Zuhair! Sudah tutup saja matamu dari pendapat lain. Tahu apa kamu dalam Jarh wat Ta’dil dibanding saya?”

Mungkin Imam Al-Bukhâriy bisa saja mengatakan demikian pada At-Tirmidziy. Tapi itu tak dilakukan. Kami memandang bahwa:

1. Al-Bukhâriy hanya diam dan tak memberi keputusan ketika ditanya At-Tirmidziy itu dalam rangka melatih At-Tirmidziy untuk meneliti sendiri dan menghukumi sendiri berdasarkan ilmu dan hujjah.

2. Aib bagi mereka yang sudah tingkatan Mujtahid di bidang Jarh wat Ta’dil jika harus taqlid pada yang lainnya.

3. Al-Bukhariy bukan tipikal guru yang “maksa” agar muridnya sependapat dengannya. Beliau lebih cenderung “membebaskan” muridnya berpendapat asal berdasarkan ilmu, hujjah, dan bayan.

Sekarang mari kita lihat sikap At-Tirmidziy. Nampaknya ia menangkap sinyal gurunya agar berjuang secara mandiri. Mengungkap rahasia ilmiyyah secara daqiq lagi semampunya. Ia pun sampai pada kesimpulannya. Walaupun ternyata hasil kesimpulan gurunya lebih tepat daripada dirinya.

 

Belum saya dapati nukilan bahwa Al-Bukhariy mempermasalahkan pilihan at-Tirmidziy muridnya, meski beliau tahu bahwa pilihannya sebenarnya lebih kuat. Sebaliknya (mungkin) Al-Bukhariy merasa senang ketika muridnya tumbuh menjadi orang yang mandiri dan ilmiyyah.

Semoga kita bisa mengambil faedah dari sikap kedua ulama Ahli Hadits dan para Imam di zamannya hingga menjadi para Imam kita semuanya ini.

baca juga :  Kehidupan Yang Baik

Sungguh diamnya seorang guru yang penuh hikmah. Bijaknya ia “membebaskan” muridnya berpendapat berdasarkan ilmu dan hujjah. Dan tentang murid yang mandiri, yang tidak terjerat pada taqlid meski sebenarnya ia hanya tinggal tutup mata dengan pendapat gurunya.

Semoga bermanfaat,

Akhukum,

Abu Hâzim Mochamad Teguh Azhar al-Atsariy (Mudir Ma’had Daar El -Ilmi & Founder Silsilah Tadabbur Quran)

Editor : Tsaqib Ilham Nur

 

(Visited 70 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *