Hidayah

  • oleh

Sudah lama kami mendorongnya untuk mengenakan khimar atau kerudung. Namun nampaknya tak juga ada perubahan. Setelah lama tak berbincang dengannya, kini ia telah berkerudung. Sudah menutup sebagian auratnya. Semoga semakin rapi berhijab. Alhamdulillah… Hati dan lisan kami berucap.

Terfikirkan di benak akan uniknya hidayah dari Allah yang bertemu dengan upaya kita memantaskan diri kita. Kita begitu menginginkan perubahan terjadi pada mad’u kita, binaan kita, teman kita, bahkan keluarga dan kerabat kita. Namun sulit sekali kita bersabar dalam prosesnya. Kita begitu menginginkan perubahan terjadi pada negeri ini, namun seringkali kita tergesa dan terburu-buru seakan dikejar sesuatu.

Sehingga langkah-langkah seringkali mengambil jalan pintas dengan “melanggar” syari’at Allah dengan alasan “darurat”.
Ya, “darurat” versi kita. Bukan ditimbang dengan kaidah syari’at. Padahal, bukan mereka tak mau berubah, namun karena belum bertemunya taqdir Allah dengan upaya maksimal kita. Kita begitu mudah merespon dan reaktif dengan keras tanpa pertimbangan. Atau seakan tak ada celah untuk hidayah Allah masuk pada sasaran dakwah kita.

-sponsor-
style="text-align: justify;">Namun kita lupa…

Tarbiyyah kita yang kurang, do’a kita yang jarang, tadhiyyah kita yang lemah, ibadah kita yang keteteran, dan seabreg kekurangan lainnya. Kemudian kita paksa keadaan? Kita “paksa” Allah untuk mengubah dalam sekejap? Bukan Ia tak mampu, namun kita yang kurang adab.

baca juga :  Macam-Macam Hidayah

Mari kita renungkan firman Allah ini…

ﻭَﻋَﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻭَﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ ﻟَﻴَﺴْﺘَﺨْﻠِﻔَﻨَّﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻛَﻤَﺎ ﺍﺳْﺘَﺨْﻠَﻒَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻠِﻬِﻢْ ﻭَﻟَﻴُﻤَﻜِّﻨَﻦَّ ﻟَﻬُﻢْ ﺩِﻳﻨَﻬُﻢُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺍﺭْﺗَﻀَﻰٰ ﻟَﻬُﻢْ ﻭَﻟَﻴُﺒَﺪِّﻟَﻨَّﻬُﻢْ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﺧَﻮْﻓِﻬِﻢْ ﺃَﻣْﻨًﺎ ۚ ﻳَﻌْﺒُﺪُﻭﻧَﻨِﻲ ﻟَﺎ ﻳُﺸْﺮِﻛُﻮﻥَ ﺑِﻲ ﺷَﻴْﺌًﺎ ۚ ﻭَﻣَﻦْ ﻛَﻔَﺮَ ﺑَﻌْﺪَ ﺫَٰﻟِﻚَ ﻓَﺄُﻭﻟَٰﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻔَﺎﺳِﻘُﻮﻥَ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (An-Nuur : 55)

Diakui atau tidak, keberhasilan dakwah, kepemimpinan Islam adalah murni dari Allah. Murni telah dijanjikannya. Kita yang terlibat didalamnya adalah yang dipilihNya. Namun kita tidak memperhatikan syarat-syariat dariNya. Dan syarat-syarat itu sudah ada di ayat tersebut jika kita mau mentadabburinya. Sengaja saya cetak tebal dan miring agar jadi bahan renungan.

Jika kita tak menguatkan keimanan dan amal shalih, serta tak menjadikan diri kita dan sekitar kita bertauhid, maka perubahan apa yang bisa kita bawa? Atas dasar apa Allah memberikan kemenangan gratis pada kaum muslimin.

baca juga :  Ketentuan Takfir Bagi Yang Meninggalkan Shalat

BagiNya mudah menggantikan kita jika tak sanggup memenuhi syarat itu. Jika antum seorang da’i, maka tak hanya jadi berkarakter da’i dalam agenda dakwah, namun antum/antunna pantas sebagai da’i ketika tilawah. Pantas sebagai da’i ketika shalat malam. Pantas sebagai da’i dalam takut, harap, dan cinta pada Allah.

Da’i itu akan menangis penuh kerendahan hati dan diri di hadapanNya. Da’i itu akan menyayangi kaum muslimin, menyayangi anak-anak kecil, menghormati tetangga. Da’i itu lembut, sabar, menyambung silaturrahim, berbakti pada walidain. Da’i itu menyingkirkan bahaya di jalan, memuliakan yang lebih tua, membantu teman, dan masih banyak lagi.

Ia seperti Iman yang bercabang-cabang. Paling tingginya kalimat Tauhid. Paling rendahnya menyingkirkan bahaya di jalan meski sebesar duri. Maka da’i itu harus kuat aqidahnya, dan peka dengan perkara yang kecil sekalipun.
Jika karakter itu tak terpenuhi. Shalat malam yang jarang, Shalat wajib keteteran, Membiarkan kesyirikan, Terlena dengan perkara mubah dan makruh, Bahkan terjebak dalam kemalasan dan keharaman, Maka mengapa kau tak salahkan dirimu sendiri?

Jika kita memantaskan diri, maka mungkin Allah memiliki alasan mempertemukan harapan kita dengan ketetapanNya.

Akhukum,
Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor : Tasyim

(Visited 64 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *