Hanya Berbeda Memilih Jalan Berbuat Dosa, Benarkah?

  • oleh

Pertanyaan:

Ustadz, bagaimana menyikapi syubhat perkataan, “Jangan sok suci, kita hanya berbeda jalan dalam berbuat dosa?”

Jawaban:

Bismillaah, walhamdulillaah washshalaatu wassalaamu ‘alaa rasulillaahi, wa ba’du.

Syari’at Allah itu ada awaamir (perkara-perkara yang diperintahkan) dan ada manhiyyaat (perkara-perkara yang dilarang).

Menutup aurat, shalat 5 waktu, zakat, shaum, dan lain-lain adalah bagian dari awaamir. Sementara ghibah, pacaran, dan lain-lain adalah perkara manhiyyat.

Orang yang bertaqwa adalah yang menjalankan awaamir dan menjauhi manhiyyat.

Ketika seseorang itu meninggalkan awaamir atau melakukan manhiyyat maka berdosa. Namun dari segi tingkatan dosa berbeda antara keduanya di sisi Allah.

Ketika seseorang melakukan manhiyyat pada hal-hal yang tidak membuat dia kafir semisal kesyirikan, mencela Allah, dan sebagainya maka itu masih lebih ringan dosanya daripada dosa meninggalkan perintah (awaamir).

Mengapa demikian?

-sponsor-
style="text-align: justify;">Diantara dalilnya adalah kisah Iblis yang meninggalkan perintah Allah untuk bersujud pada Adam. Maka iapun dilaknat oleh Allah hingga hari kiamat.

Sementara Adam ‘Alaihissalaam melakukan kesalahan dengan melakukan salah satu manhiyyat yaitu memakan buah terlarang, maka Adam bersalah namun kemudian diberi kesempatan untuk bertaubat dan diterima taubatnya.

Dari sana Ibnul Qayyim mengemukakan kaidah bahwa, “Menolak atau meninggalkan perintah dosanya lebih besar dan lebih berbahaya dari melakukan larangan! sebab Iblis menolak perintah kemudian dilaknat sepanjang hayat, sementara Adam melakukan larangan kemudian bertaubat dan diampuni oleh Allah”

baca juga :  Kabur

Maka jika seseorang menolak menutup aurat dibandingkan dengan orang yang menutup aurat tapi rajin ghibah maka dosanya lebih bahaya yang menolak menutup aurat, sebab ia menolak perintah Allah. Dan itu bagian dari kesombongan yang diwarisi dari Iblis. Sementara orang yang menutup aurat namun kemudian masih berbuat dosa larangan masih ringan timbangan yang pertama tadi, dan mereka masih ada kesempatan bertaubat.

Allah berfirman tentang bahayanya kesombongan menolak perintah bahwa mereka alan dipalingkan dari kebenaran,

سَاَ صْرِفُ عَنْ اٰيٰتِيَ الَّذِيْنَ يَتَكَبَّرُوْنَ فِى الْاَ رْضِ بِغَيْرِ الْحَـقِّ ۗ وَاِ نْ يَّرَوْا كُلَّ اٰيَةٍ لَّا يُؤْمِنُوْا بِهَا ۚ وَاِ نْ يَّرَوْا سَبِيْلَ الرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوْهُ سَبِيْلًا ۚ وَّاِنْ يَّرَوْا سَبِيْلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوْهُ سَبِيْلًا ۗ ذٰلِكَ بِاَ نَّهُمْ كَذَّبُوْا بِاٰ يٰتِنَا وَكَا نُوْا عَنْهَا غٰفِلِيْنَ

“Akan Aku palingkan dari ayat-ayatKu orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar. Kalaupun mereka melihat setiap tanda (kekuasaan-Ku) mereka tetap tidak akan beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak (akan) menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka menempuhnya. Yang demikian adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lengah terhadapnya.”

(QS. Al-A’raf 7: Ayat 146)

Contoh lain. Orang yang menolak wajibnya shalat lima waktu dikafirkan, sementara mereka ahli maksiat yang masih shalat tidak dikafirkan.

Orang yang menolak wajibnya zakat dan shaum ramadhan dikafirkan. Sementara pelaku dosa dan maksiat tidak langsung dikafirkan jika mereka masih tidak musyrik dan murtad.

baca juga :  Apakah Mengumumkan Kematian Mutlak Terlarang ?

Dan masih banyak lagi dalil, alasan dan contoh lainnya.

Maka, jelaslah bathilnya syubhat yang mengatakan, “kita hanya berbeda dalam mengambil jalan berbuat dosa”. Itu berangkat dari kejahilan akan konsep syari’at. Dan itulah salah satu hembusan iblis.

Wallahu Waliyyut Taufiiq.

Akhukum,
Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I. (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor: Adnan Aliyyudin

(Visited 75 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *