Dimanakah Manusia Akan Dibangkitkan Pada Hari Kiamat Nanti?

  • oleh

Pertanyaan:

Bismillah, afwan ustadz mau tanya, sekarang ini alam kubur ada di alam dunia ini. Kelak kita semua akan dibangkitkan dari kubur di hari kiamat nanti. Pertanyaannya apakah kelak pada hari kebangkitan, kita dibangkitkan dari kubur itu juga di alam dunia seperti sekarang ini atau dimanakah manusia akan dibangkitkan kembali oleh Allah?

Jawaban:

Bismillah, walhamdulillah washshalaatu wassalaamu ‘alaa rasuulillah. Amma ba’du.

Berkenaan dengan pertanyaan diatas Ibnu Katsir menjelaskan dalam Tafsirnya:

فأوَّل يوم القيامة النَّفخُ في الصُّور نفخة الفزع والصَّعق، ثم نفخة البعث التي تعودُ فيها الأرواح إلى الأجساد فتحيا، ثم تُحشَر الخلائقُ إلى ربِّ العِباد، والصُّور هو القَرن الذي ينفُخ فيه إسرافيل عليه السلام

“Maka yang pertama kali terjadi di hari kiamat adalah peniupan sangkakala yang mengejutkan dan menggoncangkan. Kemudian tiupan kebangkitan yang mana arwah kembali ke jasad-jasad hingga hidup kembali. Kemudian manusia digiringkan kepada Rabbul ‘Ibâd. Dan sangkakala itu berbentuk tanduk yang Israfil ‘Alayhissalâm meniupnya kelak.”

-sponsor-
style="text-align: justify;">Kemudian sebuah hadits shahih dari Syaikhain (Al-Bukhâriy dan Muslim) menggambarkan pada kita bagaimana kaifiyyat hari kebangkitan nanti:

«ما بين النفختين أربعون»، قالوا: يا أبا هريرة، أربعون يومًا؟ قال: أبيتُ، قال: «ثم يُنزِل الله ماءً فينبتون منه كما ينبت البقل، ليس من الإنسان شيءٌ إلا يَبلَى إلا عظمًا واحدًا وهو عجب الذنب ـ آخر عمود الظهر ـ ومنه يُركَّب الخلق يوم القيامة»

baca juga :  Makna Iman Kembali Ke Madinah

“Antara 2 tiupan itu ada 40”. Mereka berkata: “Ya Aba Hurayrah, maksudnya 40 hari?”. Beliau menjawab: “Saya enggan menjawabnya”. Kemudian Abu Hurayrah berkata lagi: “Kemudian Allah menurunkan air,, maka merekapun tumbuh kembali seperti tumbuhnya sayuran (tetumbuhan). Tidaklah dari manusia tersisa sedikitpun (hancur semua jasadnya) kecuali satu tulang saja yaitu tulang ekor. Darinyalah manusia dihidupkan lagi di hari kiamat.” (Riwayat al-Bukhâriy dan Muslim)

Syaikh Abdullah al-Qushayyir mengatakan:

Hadits ini menunjukkan bahwa Ahli Kubur dan orang-orang yang mati (baik dikubur atau tidak) itu tetap ada di bumi setelah tiupan pertama yang mengejutkan dan menggoncangkan itu selama 40 sebelum tiupan yang kedua. Datang dari beberapa riwayat bahwasanya 40 disana itu sekira 40 tahun”.

Nah, pada tiupan yang kedua Allah membangkitkan mereka setelah sebelumnya dikirimkan air terlebih dahulu dari langit dan ruh-ruh mereka dikembalikan ke-jasad-jasad mereka. Barulah kemudian mereka digiring ke mahsyar.

Kalau kita perhatikan sekilas dari dalil-dalil di atas seakan memberi kesan pada kita bahwa kita dibangkitkan di bumi yang saat ini kita pijak. Namun jika kita perhatikan kalam yang lain menyebutkan beberapa dalil diantaranya:

فَاِ ذَا هُمْ بِا لسَّاهِرَةِ ۗ

“Maka seketika itu mereka hidup kembali di bumi (yang baru).”

(QS. An-Nazi’at 79: Ayat 14)

Al-Qurthubiy dan al-Baghawiy dalam tafsir mereka sepakat bahwa maksudnya adalah permukaan bumi. Namun sebagian mufassir menyebutkan bumi yang baru lagi. Sebagian mengatakan semisal Sufyan ats-Tsauriy,

baca juga :  HARGA MELAMBUNG TINGGI

هي أرض الشام

“Dia bumi Syam”.

Ada ayat yang menjelaskan tentang pergantian bumi,

يَوْمَ تُبَدَّلُ ٱلْأَرْضُ غَيْرَ ٱلْأَرْضِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُ…

“Pada hari dimana bumi diganti dengan bumi yang lain, begitupula langit…” (Ibrâhim: 48)

Saya coba membaca kitab-kitab Tafsir semisal al-Mukhtashar, Al-Muyassar, Tafsir as-Si’diy, Zubdatut Tafsir, Aisarut Tafasir, Ibnu Katsir, Al-Qurthubiy dan lain-lain. Rata-rata mereka berbeda pendapat menafsirkannya. Sebagian mengatakan memang bumi ini berganti secara hakiki. Sebagian lagi mengatakan yang berganti sifat dan karakteristiknya saja.

Walhasil ini bagian furu’ dalam ‘aqidah yakni keyakinan akan bumi mana yang dimaksud. Apakah bumi yang sekarang kita pijak yang kemudian berubah sifat dan karakteristiknya saja, ataukah bumi yang baru? Itu masih diperselisihkan oleh para ulama.

Wallahu Waliyyut Taufiiq.

Akhukum,

Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor : Dudi Rusdita

(Visited 212 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *