Cita-Cita Dan Tekad Yang Kuat Dalam Menuntut Ilmu

Jika telah terbit bintang cita-cita, diboncengi oleh bulan tekad yang kuat, maka akan diterangilah hati seseorang dengan cahaya dari Rabb-nya.

Dan ia adalah Al-Khathîb al-Baghdâdiy membaca Shahih Al-Bukhâriy seluruhnya kepada Ismâ’il al-Hîriy hanya dalam TIGA MAJELIS SAJA! Dua darinya dalam dua malam, dari waktu shalat Maghrib hingga shalat Shubuh, dan hari ketiganya dari waktu Dhuha hingga maghrib, dan dari maghrib hingga terbit fajar.

Berkata al-Hâfidzh adz-Dzahabiy rahimahullâh dalam “Târîkh al-Islâm” :

وهذا شيء لا أعلم أحدا في زماننا يستطيعه

“Ini diantara perkara yang aku tidak tahu ada satupun yang sanggup melakukannya di zaman kita!” [Syarh Ta’zhîmil ‘Ilmi, hal. 28]

Dan ada juga Abu Muhammad Ibnu Tabbân di awal masa menuntut ilmunya ia belajar semalam suntuk. Ketika ibunya melarangnya karena rasa kasihan padanya, ia menjadikan lampunya disembunyikan di bawah wadah yang ditelungkupkan, kemudian ia tiduran. Ketika

-sponsor-
ibunya tidur, iapun mengeluarkan lampu tersebut dan melanjutkan belajar.

Syaikh Shâlih al-‘Ushaimiy berkata,

فكن رجلا رجله على الثرى ثابتة، وهامة همته فوق الثريا سامقة، ولا تكن شاب البذن أشيب الهمة، فإن همة الصادق لا تشيب.

“Maka jadilah seseorang yang kakinya menginjak bumi dengan kokoh, dan cita-citanya terbang tinggi melampaui bintang Tsurayya. Janganlah tuanya badan menuakan cita-cita, karena sesungguhnya cita-cita seorang yang jujur imannya tak ikut menua.” [Syarh Ta’zhîmil ‘Ilmi, hal. 29]

baca juga :  SYAHWAT TERSEMBUNYI

Abu Hâzim Mochamad Teguh Azhar al-Atsariy

(Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi Beusi)

Editor : Tsaqib Ilham Nur

(Visited 16 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *