Cerdas Pasti Benar?

Sebagian orang menyombongkan diri dengan kecerdasan. Sebagian lagi tertipu oleh kecerdasan, dengan menyangka bahwa yang cerdas sudah pasti benar.

Berkata Ibnu Taimiyah rahimahullah ketika menyebutkan tentang para Mutakallimin (ahli Kalam) yang mana Aqidah mereka bertentangan dengan Al-Quran dan As-Sunnah,

أوتوا ذكاء ولم يؤتوا زكاء، وأعطوا علوما ولم يعطوا فهوما، وجعل الله لهم سمعا وأبصارنا وأفئدة، فما أغنى عنهم سمعهم ولا أبصارهم ولا أفئدتهم من شيء…

“Mereka diberi kecerdasan tapi tidak diberi kesucian ‘aqidah. Mereka diberi ilmu tapi tak diberi kefahaman. Allah memberikan untuk mereka pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, tapi semuanya itu tak berguna sama sekali sedikitpun untuk mereka…” [Syarah Ta’zhimil ‘Ilmi, 38-39]

Siapakah yang tak kenal Washil bin ‘Atha al-Mu’taziliy, seorang tokoh Mu’tazilah yang sangat cerdas. Tentu bagi sebagian penuntut ilmu ia sudah tidak asing lagi. Ia mampu mengguncang dunia dengan khuthbah terkenalnya. Dalam waktu sekejap ia mampu merangkai khutbah Jum’at tanpa huruf “ر” sama sekali dari awal hingga akhirnya, karena ia seorang yang “cadél”.

Cerdas

-sponsor-
tapi sesat.

Banyak lagi contoh lainnya selain dia, yang Allah berikan kecerdasan namun malah memilih jalan selain jalan yang ditunjuki Al-Quran dan Sunnah.

Teranglah bagi kita bahwa tidak setiap kecerdasan dalam agama itu sudah pasti kebenaran, sebab Al-Quran dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman para sahabat menjadi timbangan. Jika sesuai dengan keduanya, maka itulah jalan yang menyelamatkan. Kita disuruh pada keduanya kuat berpegangan. Allah Ta’âlâ berfirman,

baca juga :  Murid Imam Asy-Syafi'iy Menetapkan Allah Di Atas 'Arsy

فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِيْۤ اُوْحِيَ اِلَيْكَ  ۚ اِنَّكَ عَلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ

“Maka berpegang teguhlah engkau kepada apa yang telah diwahyukan kepadamu. Sungguh, engkau berada di jalan yang lurus.”

(QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 43)

Berkata Syaikh Shâlih al-‘Ushaimiy hafizhahullâh,

وهل أوحي إلى أبي القاسم صلى الله عليه وسلم شيء سوى القرآن والسنة؟ ومن جعل علمه القرآن والسنة، كان متبعا غير مبتدع ونال من العلم أوفره.

“Apakah ada yang diwahyukan kepada Abil Qâsim shallallâhu ‘alayhi wasallam sesuatu selain Al-Quran dan As-Sunnah?!

Barangsiapa yang menjadikan ilmunya adalah Al-Quran dan As-Sunnah berarti ia pengikut bukan kepada Mubtadi’, dan ia akan mendapatkan ilmu lebih banyak lagi.” [Syarh Ta’zhîmil ‘Ilmi, hal. 35]

Wallâhu A’lam.

Semoga bermanfaat.

Abu Hâzim Mochamad Teguh (Mudir Ma’had Daar El -Ilmi & Founder Silsilah Tadabbur Quran)

(Visited 35 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *