Beradablah

  • by

Memuliakan dan beradab pada ahli ilmu adalah bagian dari ketaqwaan hati serta bukti ia mengamalkan ilmunya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati” (QS. Al Hajj: 32).

Ilmu dan para ahli ilmu adalah bagian dari syi’ar-syi’ar Allah di muka bumi.

Maka hendaknya seseorng berhati-hati pada ahli ilmu. Jika ahli ilmu itu bertaqwa pada Allah dan istiqamah di atas kebenaran, ketika terganggu dan disakiti hatinya maka seseorang tengah menghadapi bahaya besar. Sebab bisa jadi mereka adalah wali-wali Allah.

Rasul shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

إنَّ اللهَ قال : من عادَى لي وليًّا فقد آذنتُه بالحربِ

“Sesungguhnya Allah berfirman: barangsiapa yang menentang wali-Ku, ia telah menyatakan perang

-sponsor-
terhadap-Ku” (HR. Al-Bukhariy no. 6502).

Imam Asy Syafi’iy rahimahullah mengatakan,

إن لم يكن الفقهاء العاملون أولياء الله فليس لله ولي

“Jika para fuqaha (ulama) yang mengamalkan ilmu mereka tidak disebut wali Allah, maka Allah tidak punya wali” (diriwayatkan Al Baihaqi dalam Manaqib Asy Syafi’i, dinukil dari Al Mu’lim hal. 21).

Na’am. Diantara krisis yang terjadi pada sebagian penuntut ilmu sekarang adalah kurang jaga adab dengan ustadznya, baik dalam perkataan dan perbuatan. Mereka lupa bahwa satu kalimat yang menjalar di sekujur tubuh dari gurunya itu adalah bagian yang harus disyukuri adanya, sebab jika tidak disyukuri maka akan termasuk mengkufuri nikmat Allah.

Syaikh Wahid Baliy mengatakan,

العلم رزق

“Ilmu itu bagian dari rizqi.”

Jika tidak disyukuri, maka berarti mengkufuri. Jika menyakiti guru, berarti tidak berterimakasih padanya.

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

لا يشكر الله من لا يشكر الناس

“Orang yang tidak berterima kasih kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah” (HR. Tirmidzi no.2081, ia berkata: “Hadits ini hasan shahih”).

Maka bagaimana jika malah menyakiti gurunya. Bahkan mengarahkan “anak panah” pada gurunya.

Syaikh Yahya al-Hajuriy berkata,

“Mereka kuajari memanah, namun setelah mahir mereka mengarahkan anak panahnya padaku.”

Aduhai bahayanya jika daging para alim yang kau makan itu. Sebab daging mereka beracun. Maka berhati-hatilah. Jagalah adabmu.

Wallahu Waliyyut Taufiiq

Akhukum,

Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor : Dudi Rusdita

(Visited 64 times, 1 visits today)
baca juga :  Cita-Cita Dan Tekad Yang Kuat Dalam Menuntut Ilmu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *