BERADAB PADA ALLAH DALAM BERBAHASA

Di bidang bahasa saya cenderung lebih suka pada Ibnu Hisyam. Qathrun Nadâ-nya, Syudzûrudz Dzahâb-nya, Mughnil Labîb-nya, Awdhahul Masâlik-nya, dan lainnya, sangat menarik dan sangat bermanfaat.

Ibnu Khaldun berkata tentangnya,

ما زلنا ونحن بالمغرب نسمع أنه ظهر بمصر عالم بالعربية يقال له ابن هشام أنحى من سيبويه

“Terus menerus selama kami di Maghrib (Maroko dan sekitarnya) mendengar bahwa telah muncul di Mesir seorang yang ‘Alim dalam Bahasa Arab. Dikatakan padanya Ibnu Hisyam lebih ahli nahwu-nya dibanding Sibawaih.” [Ad-Durar al-Kâminah, 2/309]

Ad-Damâmîniy berkata pada anaknya Ibnu Hisyâm,

لو عاش سيبويه لم يمكنه إلا التلمذة لوالدك والقراءة عليه

“Kalaulah Sibawaih masih hidup, tidak mungkin baginya melewatkan masa kecuali pasti ia akan berguru pada Bapakmu dan membaca padanya.” [Ad-Durar al-Kâminah, 2/308-309]

Asy-Syaukâniy juga berkomentar tentangnya,

وقد تصدر للتدريس، وانتفع به الناس، وتفرد بهذا الفن، وأحاط بدقائقه وحقائقه، وصار له من الملكة فيه

-sponsor-
ما لم يكن لغيره، واشتهر صيته في الأقطار، وطارت مصنفاته في غالب الديار.

“Sungguh ia muncul untuk mengajar. Manusia mengambil manfaat darinya. Ia bersendiri (kehebatannya) dalam bidangnya. Menguasai betul kedalaman dan hakikat-hakikat tersembunyi di bidangnya. Hingga jadilah ia memiliki kemampuan yang ekspert, dan itu tidak dimiliki selainnya. Terkenal gaungnya di penjuru bumi. Dan karya-karya tulisnya terbang ke berbagai negeri.” [Al-Badru ath-Thâli’, 1/401]

baca juga :  Makna Keterasingan

Dan masih banyak lagi pujian serta tazkiyyah para ulama tentangnya.

Sebenarnya bukan karena prestasinya dan tazkiyyah orang terhadapnya yang membuat saya suka pada beliau, melainkan karena manhajnya dalam menyampaikan ilmu serta bagusnya adab. Ya, di tiap karyanya, beliau sering menukil Kalâmullâh, bahkan menjadikan Kalâmullâh (ayat-ayat Al-Quran) sebagai rujukan dalam ilmu Nahwu-nya. Sering kami dapati ayat Al-Quran sebagai sumber utama (asas) dalam membangun fondasi kaidah-kaidahnya sekaligus contoh-contohnya. Syaikh ‘Abdul ‘Âl Sâlim Mukarram juga menjelaskan hal ini dalam kitabnya yang berjudul Al-Qurân Al-Karîm wa Atsaruhu fî ad-Dirâsât an-Nahwiyyah, beserta Syaikh Muhammad Samîr Najîb al-Lubadiy dalam Atsar al-Qurân wa al-Qirâ-ât fî an-Nahwi al-‘Arabiy.

Bayangkan saja, dalam kitabnya Mughniy al-Labîb terdapat ± 1980 ayat Al-Qurân. Di Syarhu Syudzûru adz-Dzahâb itu ada lebih dari 655 ayat. Kemudian di Syarhu Qathri an-Nadâ sekira 300-an ayat. Ini menunjukkan ihtimam (perhatian) beliau menjadikan Kalâmullâh sebagai mashdar (sumber) dalam ilmunya.

Namun yang menjadi sorotan saya dalam tulisan ini adalah adab beliau terhadap Allah ‘Azza wa Jalla. Ya, mungkin dalam hal ini sudah ada yang mendahului beliau. Tapi saya tahunya baru melalui beliau. Yaitu jika beliau meng-I’rab Lafzhul Jalâlâh (lafazh Keagungan Allah) ketika menjadi Maf’ul bih (Objek/yang dikenai pekerjaan) maka beliau tidak mengatakan “maf’ûlun bihi manshûbun…” melainkan diganti dengan, “manshûbun ‘ala at-Ta’zhîm”.

baca juga :  Cerdas Pasti Benar?

Ya, ini contoh beradab pada Allah Tabâraka wa Ta’âlâ bahkan dalam berbahasa…

Betapa banyak dari kita yang kurang adabnya pada Allah dalam banyak hal, termasuk dalam berbahasa. Tidak sedikit dari kaum muslimin untuk menyebut nama Allah saja begitu enggan, dan malah memilih penggunaan nama lain untuk-Nya. Bahkan anehnya sebagian Da’i malah menyematkan nama-nama dan sifat-sifat yang kurang sopan pada Allah hanya karena ingin terlihat lebih “menarik” di kalangan followers-nya, Allâhul Musta’ân.

Para pendahulu kita yang shalih telah membimbing kita untuk beradab pada-Nya. Semoga kita bisa mengikuti mereka. Rahimahumullâhu rahmatan wâsi’ah.

Semoga bermanfaat…

Akhukum Fillah,

Abu Hâzim Mochamad Teguh Azhar (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor : Tsaqib Ilham Nur

(Visited 80 times, 1 visits today)

1 tanggapan pada “BERADAB PADA ALLAH DALAM BERBAHASA”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *