Batasan Durhaka Pada Orang Tua

  • by

Diantara keindahan Islam adalah ajaran wajibnya seorang anak berbakti pada orang tuanya serta larangan mendurhakai keduanya. Bahkan suruhan untuk berbuat baik pada keduanya digandengkan dengan suruhan mentauhidkan Allah ‘Azza Wa Jalla. Allah berfirman,

وَقَضٰى رَبُّكَ اَ لَّا تَعْبُدُوْۤا اِلَّاۤ اِيَّاهُ وَبِا لْوَا لِدَيْنِ اِحْسَا نًا ۗ اِمَّا يَـبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَاۤ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَاۤ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”

(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 23)

Selain itu banyak sekali ancaman bagi mereka

-sponsor-
yang mendurhakai kedua orang tua berdasarkan dalil-dalil. Karena durhaka pada orang tua termasuk salah satu dari dosa besar yang membinasakan. Rasul shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ أَبِيْ بَكْرَةَ نُفَيْعِ بْنِ الْحَارِثِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ  ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟ -ثَلَاثًا- قُلْنَا: بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ: اَلْإِشْرَاكُ بِاللهِ، وَعُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ. وَكَانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فَقَالَ: أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ، وَشَهَادَةُ الزُّوْرِ، فَمَازَالَ  يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا: لَيْتَهُ سَكَتَ

Dari Abu Bakrah Nufai’ bin al-Hârits Radhiyallahu anhu , ia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maukah aku beritahukan kepadamu dosa besar yang paling besar?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya tiga kali. Kami (para Shahabat) menjawab, “Tentu, wahai Rasûlullâh.” Nabi hallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menyekutukan Allâh dan durhaka kepada kedua orang tua.” Awalnya Beliau bersandar kemudian duduk dan bersabda, “Serta camkanlah, juga perkataan bohong dan saksi palsu.” Nabi selalu mengulanginya sehingga kami berkata (dalam hati kami), “Semoga Beliau diam.” (HR. Al-Bukhâriy, Muslim, Ahmad, at-Tirmidziy, dan lain-lain)

baca juga :  Tentang Metode

Masih banyak lagi lainnya nash-nash tentang bahayanya durhaka pada kedua orang tua.

Namun persoalannya seringkali orang bingung sampai batas seperti apa bentuk kedurhakaan itu? Apakah cukup berkata “ah” saja sudah masuk kategori durhaka sebagaimana dzhahir ayat, ataukah bagaimana?

Al-Imam ash-Shan’âniy ketika mensyarah hadits Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam,

إنّ اللّه حرّم عليكم عقوق الأمهات… (متفق عليه)

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kalian durhaka pada para Ibu…” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Ash-Shan’âniy mengatakan menyimpulkan dari al-Bulqîniy,

وهو أن يحصل من الولد للأبوين أو أحدهما إيذاء ليس بالهين عرفا، فيخرج من هذا ما إذا حصل من الأبوين أمر أو نهي فخالفهما بما لا يعد في العرف مخالفته عقوقا فلا يكون ذلك عقوقا…

“Yaitu ketika seorang anak mengganggu kedua orang tuanya atau salah satunya melebihi kadar kebiasaan yang berlaku (di daerahnya). Maka tidak termasuk ke dalam kedurhakaan manakala ada perintah atau larangan dari kedua orang tuanya kemudian sang anak menyelisihi keduanya pada apa-apa yang tidak terhitung oleh ‘Urf (kebiasaan yang berlaku) sebagai kedurhakaan, maka itu bukanlah kedurhakaan…” (Subul as-Salâm, 4/162)

Jika merujuk pada penjelasan ash-Shan’âniy di atas kita akan menyimpulkan bahwa kedurhakaan pada orang tua itu dipengaruhi ‘urf setempat. Jika dalam kebiasaan di daerah tempat tinggalnya menganggap bahwa tingginya suara anak di depan orang tua sebagai kedurhakaan, maka ia terhitung kedurhakaan. Namun jika tidak dan dianggap biasa saja, maka tidak terhitung kedurhakaan. Begitu juga kasus lainnya, bisa kita analogikan dengan dhabith di atas.

baca juga :  STANDAR MINIMAL KITAB-KITAB YANG DIKUASAI PENUNTUT ILMU

Bahkan di zaman Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam banyak yang mengeluhkan orang tua mereka pada Nabi. Dan Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam tidak menganggap aduan-aduan tersebut sebagai kedurhakaan. Mengapa? Karena dalam ‘urf mereka tidak termasuk kedurhakaan.

Demikian semoga bermanfaat.

Wallahu Waliyyut Taufiiq

Akhukum,
Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I. (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor: Adnan Aliyyudin

(Visited 111 times, 3 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *