BAGUS DALAM MENGAMBIL, KOKOH MENYIMPANNYA

Syaikh Shâlih Al-‘Ushaimiy menjelaskan bahwa landasan dalam mengambil ilmu agar ia kokoh dalam diri,

أحدها: تحفظ العلم، أي: حفظه
وثانيها: مذاكرته، أي: مدارسته مع الأقران.
ثالثها: السؤال عنه، أي: الاستفهام عنه من أهله

Pertama: Menjaga ilmu, yaitu menghafalnya. Kedua: me-Mudzâkarah-nya, yaitu mempelajarinya dan mendiskusikannya kembali dengan sejawat. Ketiga: Bertanya tentangnya, yaitu bertanya tentangnya dari ahlinya.” [Syarh Ta’zhîmil ‘Ilmi, hal. 88]

Sebab sedikit sekali manfaat ilmu bagi seseorang jika ia tak menghafalkannya dan tak mengamalkannya. Ilmunya akan segera hilang dari dirinya. Sungguh hafalan itu meski sedikit sangat bermanfaat bagi seseorang.

Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn rahimahullâh berkata,

حفظنا قليلا وقرأنا كثيرا، فانتفعنا بما حفظنا أكثر من انتفاعنا بما قرأنا.

“Kami sedikit menghafal dan banyak membaca. Maka apa yang kami hafalkan lebih banyak manfaatnya daripada yang kami baca.” [Syarh Ta’zhîmil ‘Ilmi, hal. 86]

Landasan lainnya

-sponsor-
adalah mudzakarah, saling mengingat ilmu. Mendiskusikan bersama aqrân. Itu kebiasaan salaf. Terlalu banyak khabar dari mereka akan hal tersebut. Ada yang diskusi di depan pintu rumah semalaman, saking asyik tak sadar bahwa mereka telah masuk waktu fajar dengan ditandai adzan shubuh. Juga contoh lainnya.

Untuk sama seperti para salaf dalam mendiskusikan ilmu tentu sulit bagi kita. Saking sempitnya waktu kita, tentu saking malasnya juga kita, ditambah lagi semangat kita yang kurang dalam diskusi ilmu. Sebagai contoh kecil, ketika sesama kita bertemu, jarang sekali kita membahas ilmu syar’iy walau secuil pun. Namun bahasan kita hanyalah urusan selain ilmu syar’iy.

baca juga :  Untung Dan Rugi

وبالمذاكرة تدوم حياة العلم في النفس، ويقوى تعلقه بها.

“Dan dengan mudzakarah-lah hidupnya ilmu di diri berlanjut, dan menguatlah keterikatan jiwa dengannya.” [Syarh Ta’zhîmil ‘Ilmi, hal. 91]

Terakhir adalah bertanya pada ahlinya. Pada yang benar-benar faham. Agar terobatilah kejahilan diri. Atau juga semakin mantaplah apa yang telah disimpan dalam dada ini.

Imam Az-Zuhriy rahimahullâh berkata,

إنما هذا العلم خزائن، وتفتتحها المسألة.

“Hanyalah ilmu ini bak lemari-lemari terkunci. Dan yang mampu membukanya adalah pertanyaan.” [Syarh Ta’zhîmil ‘Ilmi, hal. 91]

Semoga bermanfaat…

Al-Faqîr ila ‘afwi Rabbih,
Abu Hâzim Mochamad Teguh Azhar
(Khâdim al-Qurân wa as-Sunnah di Ma’had Daar El ‘Ilmi, Beusi)
Editor : Dudi Rusdita

(Visited 6 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *