Apakah Tidur Membatalkan Wudhu?

  • by

Seseorang bertanya:

Afwan ustadz, apakah tidur membatalkan wudhu?

Jawaban:

Banyak qaul ulama dalam hal ini:

  1. Batal secara mutlaq
  2. Tidak batal secara mutlaq
  3. Jika tidurnya dalam keadaan duduk di atas bumi tanpa berubah keadaan maka tidak batal. Namun jika berubah kondisi maka batal
  4. Batal jika tidur kecuali tidur yang sedikit dalam keadaan duduk atau berdiri
  5. Batal jika tidur lama, dan tidak batal jika tidur sebentar.

Argumen pendapat pertama,

ﺣﺪﻳﺚ ﺻﻔﻮﺍﻥ ﺑﻦ ﻋﺴﺎﻝ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻨﻦ ، ﻗﺎﻝ : ‏( ﻛَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﺄْﻣُﺮُﻧَﺎ ﺇِﺫَﺍ ﻛُﻨَّﺎ ﺳَﻔَﺮًﺍ ﺃَﻥْ ﻻ ﻧَﻨْﺰِﻉَ ﺧِﻔَﺎﻓَﻨَﺎ ﺛَﻼﺛَﺔَ ﺃَﻳَّﺎﻡٍ ﻭَﻟَﻴَﺎﻟِﻴﻬِﻦَّ ﺇِﻻ ﻣِﻦْ ﺟَﻨَﺎﺑَﺔٍ ، ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﻣِﻦْ ﻏَﺎﺋِﻂٍ ﻭَﺑَﻮْﻝٍ ﻭَﻧَﻮْﻡٍ ‏) ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ‏( 89 ‏) ﻭﺣﺴﻨﻪ ﺍﻷﻟﺒﺎﻧﻲ.

Hadits Shafwan bin ‘Asaal radhiyallahu ‘anhu dalam Sunan At Tirmidzi,

-sponsor-
berkata: “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam memerintahkan kami ketika safar agar tidak melepaskan Khuff selama 3 hari 3 malam selain jika junub. Tapi masih boleh dipakai jika buang air besar, kencing, dan tidur.” (HR. At Tirmidzi no. 89, dihasankan Al Albaniy)

Disana tidur disejajarkan dengan kencing dan buang air besar. Dimaklumi bahwa kencing dan BAB merupakan pembatal wudhu. Maka tidur pun pembatal wudhu secara mutlaq menurut hadits ini. Pendapat ini madzhab-nya Ishaq bin Rahawayh, Al Muzani, Hasan Al Bashri, dan Ibnul Mundzir.

baca juga :  Dahsyatnya Sedikit Bicara

Argumen pendapat kedua,

ﻟﺤﺪﻳﺚ ﺃﻧﺲ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ : ﺃﻥ ﺍﻟﺼَّﺤﺎﺑﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ ‏( ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻨﺘﻈﺮﻭﻥ ﺍﻟﻌِﺸﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﻋﻬﺪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭﺳَﻠَّﻢَ ﺣﺘﻰ ﺗﺨﻔِﻖَ ﺭﺅﻭﺳﻬﻢ ﺛﻢ ﻳُﺼﻠُّﻮﻥ ﻭﻻ ﻳﺘﻮﺿﺆﻭﻥ ‏) ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ ‏( 376 ‏) ﻭﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﺍﻟﺒﺰَّﺍﺭ : ‏( ﻳﻀﻌﻮﻥ ﺟﻨﻮﺑﻬﻢ ‏)

Hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu: “Bahwasanya para Sahabat radhiyallahu ‘anhum mereka menunggu shalat Isya di masa Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam sampai terkantuk-kantuk hingga tenggelam kepalanya, kemudian mereka shalat tanpa berwudhu lagi.” (HR. Muslim no. 376), dalam riwayat Al Bazzar: “Meletakkan lambung-lambung mereka”.

Dalil ini menunjukkan bahwa para sahabat sempat tertidur sembari menunggu berjama’ah shalat Isya. Dimaklumi bahwa mereka terbiasa mengakhirkan berjama’ah shalat Isya bersama Rasulullah agar mendapatkan keutamaan sebagaimana sabda Rasul mengenai hal itu. Kemudian mereka shalat tanpa berwudhu lagi.

Ini pendapatnya Abu Musa Al Asy’ari dan Sa’id bin Musayyab.

Argumen pendapat ketiga,

Menyimpulkan ‘illat yang terkandung. ‘illat itu bernama kemungkinan berhadats. Jika sembari duduk kokoh, maka kemungkinan berhadats-nya kecil, sebab lubang angin masih tertutup. Sebaliknya jika berganti posisi maka kemungkinan berhadats-nya besar, karena lubang angin terbuka. Dimaklumi mata adalah “kunci” lubang angin. Jika mata terbuka, mata lubang angin tertutup. Jika mata tertutup, maka lubang angin terbuka. Sementara ibadah harus dibangun di atas keyakinan. Dan duduk dengan kokoh membangun asumsi keyakinan tidak berhadats.

baca juga :  Menentukan Sendiri Dzikir Untuk Orang Sakit

Kaidah mengatakan,

اليقين لا يزال بالشك

“Keyakinan itu tidak hilang dengan keraguan”

Ini adalah madzhab-nya Syafi’iyyah dan Hanafiyyah.

Argumen pendapat keempat,

Pendapat keempat ini men-jama’ 3 pendapat sebelumnya. Menjama’ hadits Shafwan dengan Hadits Anas, serta mempertimbangkan adanya ‘illat sebagaimana yang diutarakan pendapat ketiga.

Ini madzhab-nya Hanabilah. Bisa dilihat di kitab Al Inshaf.

Argumen pendapat kelima,

Pendapat ini memandang bahwa tidur yang lama bisa membatalkan wudhu karena hilangnya kesadaran. Kemungkinan berhadats sangat besar. Selain itu ia seperti orang mabuk, atau pingsan. Dimaklumi bahwa yang demikian tidak memenuhi syarat sah.

Selain itu ia juga menguatkan hadits Shafwan di satu sisi.

Pada sisi lainnya mereka menguatkan hadits Anas dengan menganggap wudhu tak batal jika tidurnya sedikit. Karena semisal menunggu waktu antara maghrib dan isya tidak semisal dengan tidur sampai shubuh. Ia masih dianggap sedikit. Maka para sahabat pun tak berwudhu kembali.

Ini pendapatnya Imam Malik, satu riwayat dari Imam Ahmad, Ibnu Taimiyyah, Syaikh Ibnu Baaz, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, dan yang lainnya.

Adapun saya cenderung pada pendapat keempat berdasarkan argumen di atas. Karena pendapat ini lebih mengambil ke-hati-hatian (ihthiyat). Selain mengumpulkan dalil, ia juga jelas batasannya. Adapun pendapat kelima, meski hampir mirip argumen dengan pendapat keempat, namun kita sulit menentukan batasan tidur yang lama dengan tidur yang sedikit seperti apa.

baca juga :  Dua Shighat Shalawat Yang Singkat Juga Sunnah Para Salaf

Wallahu Waliyyut Taufiiq…

Muhibbukum,
Al-Faqiir ilallah Abu Hāzim Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I. (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor: Adnan Aliyyudin

Maraaji’:

Al Inshaf

Majmu’ Syarh Muhadzdzab
Sunan At Tirmidzi

Shahih Muslim

(Visited 29 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *