Apakah Shaum Tiga Hari Setiap Bulan Sama Dengan Ayyâmul Bîdh?

Pertanyaan:

Ustadz, saya kadang bingung ketika menghadapi hari tasyriq tapi bertepatan dengan ayyamul bidh. Apakah anjuran shaum 3 hari setiap bulan itu maksudnya hanya ayyamul bidh?

Abu K**ila, di bumi Allah.

Jawaban:

Alhamdulillâh, wash shalâtu wassalâmu ‘alâ Rasûlillâhi,

Ammâ ba’du.

Mungkin yang anda maksud adalah hadits yang diriwayatkan oleh Syaikhân (Imam Al-Bukhâriy dan Imam Muslim) dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, beliau berkata,

أوصاني خليلي صلى الله عليه وسلم بثلاث: صيام ثلاثة أيام من كل شهر، وركعتي الضحى، وأن أوتر قبل أن أنام. رواه البخاري ومسلم.

“Kekasihku shallallâhu ‘alayhi wasallam mewasiatkan padaku tiga hal: shiyam tiga hari setiap bulan, dua raka’at dhuha, dan witir sebelum aku tidur.” [Riwayat al-Bukhâriy dan Muslim]

Diketahui bahwa Rasul shallallâhu ‘alayhi wasallam berwasiat semisal demikian bukan hanya ada Sahabat Abu Hurairah saja, tapi juga pada Abud Dardâ (riwayat Muslim) dan Abu Dzar (riwayat an-Nasâ-iy).

-sponsor-
Tujuannya agar mereka menjaga amal-amal nawafil secara rutin, sehingga jiwanya terlatih dan ringan melakukan kewajiban. Sekaligus untuk menambal yang kurang-kurang pahala amalan wajibnya karena kurang maksimal dan optimal ketika menjalankannya.

Selain itu, merutinkan amalan nawafil (setelah amalan wajib) akan menghapus kejelekan-kejelekan. Sebab hasanât (kebaikan-kebaikan) itu yudzhibna as-Sayyiât (mengusir keburukan-keburukan). Bahkan amalan nawafil juga berfungsi untuk melipatkan kebaikan-kebaikan.

Nah, diantara amalan nawafil itu dari tiga amalan di atas adalah shiyam tiga hari setiap bulan.

baca juga :  Bersegera Meraihnya

Para ulama berbeda pendapat mengenai penentuan tiga hari yang dimaksud. Sebagian para Sahabat dan Tâbi’în menafsirkannya dengan Ayyâmul Bidh (hari-hari putih/pertengahan bulan hijriyyah yaitu tanggal 13, 14, 15). Diantara mereka adalah ‘Umar bin al-Khaththâb, Ibnu Mas’ûd, Abu Dzar, para pengikut Imam Syâfi’iy, sebagaimana yang dihikayatkan an-Nawawiy dalam Syarh Shahih Muslim.

Akan tetapi ar-Rûyâniy dalam al-Bahr mengatakan,

وإن صام ثلاثة غير أيام البيض فمستحب أيضا وهو كما قال

“Jika seseorang shaum tiga hari selain ayyâmul bîdh, maka mustahabb (disukai) juga. Dan itu masuk kategori yang dibicarakan Nabi shallallâhu ‘alayhi wasallam.” [Fathil ‘Allâm Syarhi ‘Umdatil Ahkâm, hal 391]

Syaikh Ibnu Bâz juga menjelaskan dalam salah satu fatwanya, ketika beliau ditanya apakah shiyam tiga hari itu maksudnya hanya ayyâmul bîdh?,

عامٌّ، يعمّ الأيام كلها، ثلاثة أيام من كل شهر، سواء من أوله، أو من آخره، أو من وسطه؛ لأنَّ الأحاديث الصَّحيحة كلها ليس فيها البيض، فيها صوم ثلاثة أيام…

“Umum. Umum untuk semua hari. Tiga hari setiap bulan itu bebas. Sama saja dari awalnya, akhirnya, atau tengahnya. Karena hadits-hadits shahih semuanya tidak ada di dalamnya menjelaskan Ayyâmul Bîdh secara eksplisit, melainkan hanya menjelaskan tiga hari saja…” http://[https://binbaz.org.sa/fatwas/21272/]

Syaikh Al-Munajjid juga menjelaskan,

والثلاثة أيام من كل شهر يصح صيامها من أول الشهر أو وسطه أو آخره ، متفرقة أو متتابعة

baca juga :  Hidayah

“Dan tiga hari setiap bulan itu shiyamnya sah dari awal bulan, tengahnya, atau juga akhirnya. Baik dipisah-pisah ataupun berurutan…” http://[https://islamqa.info/ar/answers/69781/]

Na’am. Jadi, tak selalu difahami hanya Ayyâmul Bîdh saja maksud tiga hari dalam hadîts, tapi juga mencakup shiyam tiga hari dari shiyam nawafil lainnya. Sebagai contoh dengan ‘formasi’ Senin-Kamis-Senin. Atau juga shaum Nabi Dawud yang selang-seling.

Sehingga jika seseorang terbiasa shaum Senin-Kamis setiap bulannya, maka ia mengumpulkan shaum nawafil sudah lebih dari tiga hari, yaitu 8 hari. Atau ketika seseorang terbiasa shaum Dawud, maka setiap bulan mungkin bisa mengumpulkan shaum sekira 15 harian. Itu sudah lebih dari batas minimal tiga hari. Mengapa demikian, karena kalimat haditsnya berbunyi umum, yaitu tiga hari setiap bulannya. Disana tak ditentukan secara jelas mana yang dimaksud tiga hari tersebut. Maka sebagian salaf mengembalikannya pada keumuman lafazh hadits tersebut.

Inilah yang difahami sebagian Salafush Shâlih. Seperti Imam An-Nakha’iy, beliau memilih tiga hari yang dimaksud hadits setiap akhir bulan dan tidak pertengahan bulan. Sementara sebagian lainnya memilih 3 hari setiap awal bulan dan tidak hanya tengah bulan. Ini dijelaskan juga oleh Fadhîlatusy Syaikh Dr. Ahmad Farîd dan Fathil ‘Allâm.

Oleh karenanya, anda tidak perlu merasa bingung jika Ayyâmul Bîdh bertepatan dengan hari-hari larangan untuk shiyam semisal hari Tasyrîq. Anda hanya tinggal mengalokasikan kesempatan shaum tersebut ke hari lain. InSyaaAllah kesempatan tersebut masih terbuka lebar untuk anda.

baca juga :  Keshalehan Orang Tua

Kesimpulannya, jika anda punya kesempatan menjalankan sunnah dengan shaum 3 hari setiap bulannya di Ayyâmul Bîdh, maka itu sangat utama. Namun ketika anda tak memiliki kesempatan, maka anda bisa shaum di hari yang lain sesuai dengan shaum-shaum yang disunnahkan semisal Senin dan Kamis atau shaum Nabi Dawud. Sebab makna tiga hari disana sifatnya umum. Demikian difahami sebagian Salaf. Dalam arti lain tiga hari itu batas minimal ideal seorang muslim untuk shaum setiap bulannya.

Wallâhu Waliyyut Taufîq

Semoga bermanfaat.

Muhibbukum Fillâh,

Abu Hâzim Mochamad Teguh Azhar (Mudir Ma’had Daar El -Ilmi & Founder Silsilah Tadabbur Quran)

Editor : Tsaqib Ilham Nur

(Visited 95 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *