Apakah Mengumumkan Kematian Mutlak Terlarang ?

Pertanyaan :

Ustadz apakah benar memberitakan kematian seseorang terlarang? Di masa pandemi begini banyak sekali Ustadz Ahlussunnah, penuntut ilmu, dll yang mendahului kita. Apakah memang tidak boleh memberitakan kematian mereka?

Abu F*h*r*, Riau.

Jawaban :

Alhamadulillâh wash shalâtu wassalâmu ‘alâ Rasûlillâhi,

Wa ba’du,

Memberitakan kematian ada dua jenis: An-Na’yu dan Al-I’lâm bil maût.

Sebenarnya keduanya hampir sama yaitu memberitakan kematian. Hanya saja ada perinciannya. Anggap saja al-I’lâm bil maût juga kita golongkan An-Na’yu untuk memudahkan pembahasan.

Apa itu an-Na’yu?

النعي وهو الإخبار بموت الميت إما أن يكون إعلاماً مجرداً ، وإما أن يكون إعلاماً بنداء ورفع صوت وذكر لمآثر الميت ونحو ذلك ، ولكل منهما حكم

“An-Na’yu itu mengkhabarkan kematian seseorang, baik sekedar pemberitahuan saja atau berupa pemberitahuan dengan menaikkan suara untuk memanggil dan menyebutkan jasa-jasa mayyit serta selain itu. Untuk keduanya itu ada konsekuensi hukumnya…” [Syaikh Shâlih al-Munajjid]

Ada beberapa

-sponsor-
riwayat yang menerangkan larangan an-Na’yu, diantaranya:

عن حذيفةَ رضيَ اللهُ عنهُ قال إذا متُّ فلا تؤذِنوا بي أحدًا إنِّي أخافُ أن يكونَ نَعيًا فإنِّي سمعتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم ينهَى عن النَّعْي. رواه ابن الملقن، حديث حسن صحيح.

Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: “Jika aku mati, janganlah kalian memberitakan tentang kematianku kepada seorang pun. Sesungguhnya aku khawatir itu menjadi Na’y. Karena aku mendengar Rasulullâh shallallâhu ‘alayhi wasallam melarang An-Na’y. [Riwayat Ibnul Mulaqqin, Haditsnya Hasan Shahih]

كان حُذَيفةُ ، إذا ماتَ له الميتُ قال : لا تؤذِنوا به أحدًا ، إنِّي أخافُ أنْ يكونَ نَعيًا ، إنِّي سمعتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلم بأُذُنيَّ هاتينِ – ينهَى عنِ النَّعْيِ. رواه ابن ماجه، حديث حسن.

Dulu Hudzaifah jika seseorang mati beliau berkata: “Jangan beritakan tentangnya pada seorang pun. Aku khawatir masuk kategori Na’y. Sungguh Aku mendengar Rasulullâh shallallâhu ‘alayhi wasallam –dengan kedua telingaku ini– melarang dari an-Na’yi”. [Riwayat Ibnu Majah, Haditsnya Hasan]

Imam at-Tirmidziy dalam Sunannya juga meriwayatkan hadits yang sama dengan derajat shahih.

Hukum an-Na’yu

Jika sekilas kita perhatikan riwayat di atas, maka mungkin kita berkesimpulan bahwa an-Na’yu itu muthlaq terlarang. Namun persoalannya betulkah demikian? Na’yu seperti apa yang sebenarnya dilarang?

baca juga :  KRISIS ADAB?

Thayyib. Mari kita sedikit menganalisis…

Pertama, kalimat إني أخاف (sesungguhnya aku takut/khawatir) yang dikatakan oleh Sahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu menunjukkan kewara’an (kehati-hatian dan keapikan) beliau. Bukan kepastian hukum bahwa semua bentuk pemberitaan kematian itu terlarang.

Kedua, Keberadaan dalil-dalil yang menjelaskan bahwa Rasul shallallâhu ‘alayhi wasallam juga memberitakan kematian beberapa orang, baik dari kalangan Sahabat maupun lainnya. Diantaranya:

Rasul memberitakan akan kematian Najasyi (Riwayat Al-Bukhariy dan Muslim).

Selanjutnya, ketika seseorang berkulit hitam yang suka mengurus mesjid wafat tanpa sepengetahuan beliau shallallâhu ‘alayhi wasallam, maka beliau mengatakan pada orang-orang,

أَفَلا كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي بِهِ ؟! دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهِ أَوْ قَالَ قَبْرِهَا ، فَأَتَى قَبْرَهَا فَصَلَّى عَلَيْهَا .

“Kenapa kalian tidak memberitahuku tentang kematiannya? Tunjukkan Aku ke kuburnya (lk/pr).” maka beliau mendatangi kuburnya dan men-shalati-nya. [Riwayat Al-Bukhâriy dan Muslim]

Itu menunjukkan bahwa beliau meminta berita kematian seseorang. Ini dalil bolehnya memberitakan kematian. Bahkan menunjukkan istihbab (dianjurkan), karena bisa menjadi wasilah ditunaikannya hak dia untuk dishalati dan diikuti jenazahnya. Ini mashlahat besar.

Dalil lainnya,

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَى زَيْدًا وَجَعْفَرًا وَابْنَ رَوَاحَةَ لِلنَّاسِ قَبْلَ أَنْ يَأْتِيَهُمْ خَبَرُهُمْ ، فَقَالَ : ( أَخَذَ الرَّايَةَ زَيْدٌ فَأُصِيبَ ، ثُمَّ أَخَذَ جَعْفَرٌ فَأُصِيبَ ، ثُمَّ أَخَذَ ابْنُ رَوَاحَةَ فَأُصِيبَ ، وَعَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ ، حَتَّى أَخَذَ الرَّايَةَ سَيْفٌ مِنْ سُيُوفِ اللَّهِ حَتَّى فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ) .

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallâhu ‘alayhi wasallam melakukan Na’y (memberitakan kematian) Zaid, Ja’far, dan Ibnu Rawahah, kepada manusia sebelum datang khabar kematiannya kepada mereka. Beliau bersabda: “Zaid mengambil Panji kemudian ia terbunuh. Lalu Ja’far mengambilnya, kemudian ia terbunuh juga. Lalu Ibnu Rawahah juga mengambilnya, dan ia terbunuh juga. (kedua mata beliau menangis). Hingga Pedang Allah (Khalid) mengambil panji tersebut sampai Allah memberikan kemenangan atas mereka”. [Riwayat Al-Bukhâriy dan Muslim]

Ini juga dalil jelas akan kebolehan memberitakan kematian seseorang.

Lalu Na’y seperti apa yang dilarang? Dan larangan tersebut menunjukkan pada keharaman atau kemakruhan?

baca juga :  Tidak Setiap Berita Bahagia Harus Diceritakan

Jawabnya adalah sebagaimana penjelasan para Ulama. Diantaranya:

–Imam An-Nawawiy dalam Syarh Shahih Muslim,

فِيهِ : اِسْتِحْبَاب الإِعْلام بِالْمَيِّتِ لا عَلَى صُورَة نَعْي الْجَاهِلِيَّة , بَلْ مُجَرَّد إِعْلَام للصَّلَاة عَلَيْهِ وَتَشْيِيعه وَقَضَاء حَقّه فِي ذَلِكَ , وَاَلَّذِي جَاءَ مِنْ النَّهْي عَنْ النَّعْي لَيْسَ الْمُرَاد بِهِ هَذَا , وَإِنَّمَا الْمُرَاد نَعْي الْجَاهِلِيَّة الْمُشْتَمِل عَلَى ذِكْر الْمَفَاخِر وَغَيْرهَا ” انتهى

Didalamnya ada istihbab (penganjuran) memberitakan kematian seseorang tidak dalam bentuk Na’yil Jâhiliyyah (Na’y yang dilakukan dengan cara-cara Jahiliyyah), melainkan sekedar memberitakan untuk menshalatinya, mengikuti jenazahnya, dan memenuhi haknya itu. Dan Na’y yang dilarang itu bukan ini yang dimaksud, melainkan hanyalah Na’yul Jahiliyyah yang didalamnya ada penyebutan kehebatan-kehebatan (membangga-banggakan) si mayit dan selainnya.”

–Imam as-Sindiy berkata dalam Hasyiyah Ibni Majah,

كَانَ أَهْل الْجَاهِلِيَّة يُشْهِرُونَ الْمَوْت بِهَيْئَةِ كَرِيهَة ، فَالنَّهْي مَحْمُول عَلَيْهِ ، وَخَافَ حُذَيْفَة أَنْ يَكُون الْمُرَاد إِطْلاق النَّهْي ، فَمَا سمِحَ بِهِ ، فَهُوَ مِنْ بَاب الْوَرَع ، وَإِلا فَخَبَر الْمَوْت سِيَّمَا إِذَا كَانَ لِمَصْلَحَةٍ كَتَكْثِيرِ الْجَمَاعَة جَائِز ” انتهى

“Duhulu orang jahiliyyah memberitakan orang mati dengan cara yang buruk, maka larangan dalam hadits dibawa kepada sebab ini. Hudzaifah khawatir jika yang dimaksud itu larangan secara muthlaq. Makanya beliau tidak mengizinkan orang melakukannya. Dan ini dari Bab wara’-nya beliau. Jika tidak maka pemberitaan kematian utamanya jika untuk kemashlahatan seperti memperbanyak Jama’ah maka itu boleh.”

– Al-Hâfizh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bâriy,

النَّعْي لَيْسَ مَمْنُوعًا كُلّه , وَإِنَّمَا نُهِيَ عَمَّا كَانَ أَهْل الْجَاهِلِيَّة يَصْنَعُونَهُ فَكَانُوا يُرْسِلُونَ مَنْ يُعْلِن بِخَبَرِ مَوْت الْمَيِّت عَلَى أَبْوَاب الدُّور وَالأَسْوَاق. وَلِذَلِكَ قَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ إِنَّ الْمُرَادَ بِالنَّعْيِ فِي قَوْلِهِ : ( يَنْهَى عَنْ النَّعْيِ ) النَّعْيُ الَّذِي كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ جَمْعًا بَيْنَ الأَحَادِيثِ…

“An-Na’yu itu tidak terlarang semua bentuknya. Yang dilarang itu yang dilakukan orang jahiliyyah; mereka mengutus orang untuk mengumumkan khabar kematian ke pintu-pintu rumah dan ke pasar-pasar. Oleh karenanya berkata para Ahli Ilmu bahwa yang dimaksud an-Na’yu dalam perkataan: (‘Nabi melarang An-Na’yu’) adalah Na’yu yang berlaku di zaman Jâhiliyyah sebagai upaya menjamak hadits-hadits.”

baca juga :  Bersegera Meraihnya

Selain itu, Jumhûr ‘Ulama dari kalangan Madzhab 4, Ibnu Qudamah, Lajnah Daimah, Masyayikh Musyrif dorar dot net yang diketuai Syaikh ‘Alawiy as-Saqqâf, Syaikh Ibnu Baaz, Syaikh Shalih al-Munajjid, dll menjelaskan hal senada akan bolehnya bahkan sunnahnya an-Na’y sepanjang tidak menyerupai cara jahiliyyah.

Kesimpulan

Berkata Ibnul ‘Arabiy,

يُؤْخَذُ مِنْ مَجْمُوعِ الأَحَادِيثِ ثَلاثُ حَالاتٍ : الأُولَى إِعْلامُ الأَهْلِ وَالأَصْحَابِ وَأَهْلِ الصَّلاحِ فَهَذَا سُنَّةٌ , الثَّانِيَةُ : دَعْوَةُ الْحَفْلِ لِلْمُفَاخَرَةِ فَهَذِهِ تُكْرَهُ , الثَّالِثَةُ : الإِعْلامُ بِنَوْعٍ آخَرَ كَالنِّيَاحَةِ وَنَحْوِ ذَلِكَ فَهَذَا يُحَرَّمُ ” انتهى من “تحفة الأحوذي”

“Diambillah kesimpulan dari hasil menjamak (mengkompromikan) hadits-hadits 3 keadaan:

1. Memberitahu (tentang kematian seseorang) pada keluarga, kawan-kawan, dan orang-orang baik adalah Sunnah.

2. Menyeru orang dalam rangka menyebut kehebatan-kehebatan si mayit maka ini dimakruhkan.

3. Memberitahu untuk kepentingan lain seperti Niyahah (ratapan) dan sejenis dengan itu, maka ini diharamkan. [Tuhfatul Ahwadziy]

Sehingga al-Faqîr (penulis) menyimpulkan secara global:

– Tidak semua bentuk Na’y itu terlarang. Ada yang Sunnah, Makruh, dan Haram.

– Larangan Na’y dalam hadits-hadits itu mengandung ‘Illah, yaitu yang menyerupai apa yang dilakukan orang jahiliyyah berupa menyebarkan secara luas sembari menyebut-nyebut kehebatan, jasa-jasa, si mayyit. Serta dengan tujuan niyahah (meratap). Sehingga jika tidak demikian, tidak termasuk larangan.

– Larangan yang ada pun tidak diarahkan ke haram secara muthlaq, namun ke makruh dan haram. Sebagaimana penjelasan di atas.

– Sahabat Hudzaifah melarang pemberitaan kematiannya dikarenakan wara’nya beliau, dan itu tidak menjadi kepastian hukum larangan.

– Jika ada mashlahat maka pemberitaan kematian justru bagus, seperti ditunaikannya shalat jenazah, mengurusinya, mengikuti penguburannya, mendo’akannya, dsb. terutama sekali orang-orang shalih yang tergolong minoritas di daerahnya. Para Ustadz ataupun para Thalib yang minoritas di daerahnya perlu dibantu penyelenggaraan jenazahnya oleh kawan-kawannya sesama ahli ilmu dan para penuntut ilmu, agar pengurusannya tidak diserahkan kepada orang awam.

Wallâhu Waliyyut Taufiiq.

Semoga bermanfaat,

Akhukum Fillâh

Abu Hâzim Mochamad Teguh Azhar (Mudir Ma’had Daar El -Ilmi & Founder Silsilah Tadabbur Quran)

Editor : Tsaqib Ilham Nur

 

(Visited 197 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *