Apakah Mayit Yang Di Tahlili Akan Diadzab Karenanya?

  • by

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

.أما بعد

 

Penanya :

– Apa itu niyahah (ratapan)?
– Mayit diadzab karena ratapan ataukah tangisan?
– Apakah tahlilan termasuk ratapan yang mengkonsekuensikan adanya adzab bagi mayit?
– Apakah dosa orang yang melakukan tahlilan bisa berefek pada mayit dalam kubur?

Jawaban :

Kita coba membahasnya satu persatu.

Pertama, apa itu niyahah?
Dalam Mausu’ah fiqhiyyah kuwaitiyyah (49/42), Niyahah secara bahasa dikatakan,

اسْمٌ مِنَ النَّوْحِ ، مَصْدَرُ نَاحَ يَنُوحُ نَوْحًا وَنُوَاحًا وَنِيَاحًا . وَهِيَ : الْبُكَاءُ بِصَوْتٍ عَالٍ ، كَالْعَوِيلِ

“Isim dari النوح, mashdar ناح-ينوح-نوحا-ونواحا-ونياحا. Yaitu, tangisan dengan suara tinggi, seperti al-‘Awīl (ratapan atau keluhan).”

Sementara menurut istilah beda-beda memahaminya.

Hanafiyah mengatakan,

البكاء مع الصوت

” Tangisan

-sponsor-
bersama suara.”

Bagi Malikiyah namanya niyahah itu tangisan yang ada salah satu dari kedua ini:

صُرَاخٌ أَوْ كَلامٌ مَكْرُوهٌ

” Teriakan dan perkataan dibenci”

Sementara bagi Syafi’iyyah,

رفع الصوت بالندب

” Mengangkat suara (teriak) disertai melukai diri.”

Sebagian Malikiyah juga ada yang berpandangan seperti itu.

Sementara bagi Hanabilah dan sebagian dari Syafi’iyyah mengatakan,

البكاء برنة مع كلام مسجع

” Tangisan dengan suara tinggi disertai perkataan yang penuh kesedihan.”

Kalau kita perhatikan penjelasan para Aimmah di atas, Niyahah itu selalu berkaitan dengan tangisan dengan suara yang tinggi atau dengan ratapan dan keluhan, serta perkataan yang buruk bentuk ketidakridhaan dan sangat menyedihkan.

Adapun tangisan biasa karena kesedihan yang manusiawi dan tidak berlebihan maka tidak masuk kategori niyahah, sebab Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam sendiri di beberapa riwayat hadits yang shahih menjelaskannya. Diantaranya,

أَنَّ اللَّه لَا يُعَذِّب بِدَمْعِ الْعَيْن وَلَا بِحُزْنِ الْقَلْب وَلَكِنْ يُعَذِّب بِهَذَا أَوْ يَرْحَم وَأَشَارَ إِلَى لِسَانه

“Bahwasanya Allah tidak mengadzab karena tetesan air mata dan tidak pula karena sedihnya hati. Akan tetapi Ia mengadzab atau memberi rahmat gegara ini–sambil menunjuk ke lidah–….” (Riwayat Al-Bukhariy)

Maka sebenarnya faktor penentu niyahah salah satunya di lisan. Apakah ia terjaga ketika bersedih ataukah tidak.

Ini sudut pertama.

Kemudian, mayit itu diadzab karena ratapan ataukah tangisan?

Ada beberapa riwayat terkait masalah ini, diantaranya…

المَيِّتُ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ الحَيِّ عَلَيْهِ

” Mayit disiksa karena tangisan orang yang hidup untuknya”. (Riwayat Al-Bukhariy dan Muslim)

Lainnya,

مَنْ نِيحَ عَلَيْهِ يُعَذَّبُ بِمَا نِيحَ عَلَيْهِ

“Siapa yang diratapi maka dia disiksa karena ratapan yang ditujukan kepadanya.” (Riwayat Al-Bukhariy dan Muslim)

Jadi mayit disiksa karena ratapan dan tangisan yang masih hidup terhadapnya. Apakah semua tangisan? Tidak, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.

An-Nawawiy menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim,

واختلف العلماء في هذه الأحاديث فتأولها الجمهور على من وصى بأن يبكى عله ويناح بعد موته فنفذت وصيته فهذا يعذب ببكاء أهله عليه ونوحهم لأنه بسبه ومنسوب إليه

“Ulama silang pendapat tentang maksud hadits bahwa mayit disiksa karena ratapan keluarganya. Mayoritas ulama memahami bahwa hukuman itu berlaku untuk mayit yang berwasiat agar dia ditangisi dan diratapi setelah dia meninggal. Kemudian wasiatnya dilaksanakan. Maka dia disiksa dengan tangisan dan ratapan keluarganya karena kematiannya. Karena dia menjadi penyebab adanya tangisan itu.”

Kalau kita perhatikan hadits-hadits di atas beserta syarah An-Nawawiy, maka akan terang bagi kita bahwasanya mayit diadzab bukan oleh sekedar tangisan, namun tangisan ratapan dengan aksi teriak, menyobek baju, atau semisalnya. Bahkan an-nawawiy menambahkan bahwa itu terjadi jika si mayit berwasiat agar diratapi. Jika tidak, maka dalam terminologi beliau mafhumnya adalah tidak diadzab gegara itu.

Kemudian, fenomena Tahlilan di masyarakat kita. Bagaimana kedudukannya?

Dalam tahlilan itu ada beberapa agenda: kumpul-kumpul, baca-baca sebagian dzikir, makan-makan atau pulang bawa bèsék.

Kita bahas kumpul-kumpul di rumah kematian. Dalam hal ini ada atsar dari sahabat Jarir bin Abdillah al-Bajaliy radhiyallahu ‘anhu,

كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعة الطعام من النياحة. رواه ابن ماجه

“Kami menganggap kumpul-kumpul di rumah kematian dan makan-makan disana bagian dari niyahah.” (Riwayat Ibnu Majah)

Dalam riwayat lain ada kalimat بعد دفنه, alias setelah dikuburkan.

Maksud صنعة الطعام disini adalah,

صُنْعَ أهلِ الميِّتِ الطعامَ للناسِ المُجتَمِعينَ عندَهم للتعْزيةِ

” Keluarga mayit membuatkan makanan untuk manusia yang kumpul-kumpul untuk ta’ziyah.”

Persis dengan yang biasa dilakukan di tengah masyarakat kita.

Bagaimana kedudukannya?

Saya hanya menyampaikan kalam para ulama terkait ini. Semisal, Syaikh Ibnu Baaz dalam mauqi’ resminya melarang ma’tam (kumpul-kumpul di rumah kematian dan keluarga mayit menyiapkan makanan bagi yang hadir). Begitu pula Syaikh Al-Faqihiy mengatakan terkait Ma’tam,

لا يجوز لأنه من البدع والمحدثات التي أحدثها الناس بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم وأصحابة والسلف الصالح ولأنه كذلك من النياحة وتعظيم المصيبة…

” Tidak boleh, karena ia bagian dari bid’ah dan perkara baru dalam agama yang diada-adakan oleh manusia sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam, para sahabat radhiyallahu ‘anhum, dan salafush shalih lainnya, dan yang seperti itu bagian dari niyahah (ratapan) dan membesar-bersarkan musibah…”

Jauh sebelum itu Imam Asy-Syafi’iy tidak menyukai adanya Ma’tam di rumah kematian. Beliau mengatakan,

وَأَكْرَهُ الْمَأْتَمَ ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ بُكَاءٌ ، فَإِنَّ ذَلِكَ يُجَدِّدُ الْحُزْنَ ، وَيُكَلِّفُ الْمُؤْنَةَ مَعَ مَا مَضَى فِيهِ مِنْ الْأَثَرِ” .
انتهى من “الأم” (1/318)

” Dan saya tidak suka adanya ma’tam, yaitu kumpulan (di rumah kematian setelah dikuburkan), meskipun tidak ada yang menangis dari mereka. Karena itu memperbaharui kesedihan, menghabiskan bahan makanannya keluarga yang ditinggalkan, berdasarkan apa yang telah lalu dijelaskan dalam atsar.” (Al-Umm, jilid 1 hal. 318)

Para ulama menjelaskan, jika kumpul-kumpul tersebut adalah dalam bentuk ta’ziyah kepada keluarga mayit untuk menghibur mereka, membawakan mereka makanan, sejumlah uang dan sebagainya, maka tidak mengapa. Sebagaimana dijelaskan oleh para ulama mu’ashirin zaman sekarang semisal Syaikh Ibnu Baaz dan lainnya.

Yang dipermasalahkan oleh para ulama adalah di zaman sekarang terbalik. Yang ta’ziyah malah dijamu dan diberi makanan, bahkan membuat agenda baru dengan adanya baca-baca ini itu dengan penentuan hari ke 1, 3, 7, 40, dan seterusnya. Inilah yang kemudian membuat mereka melarang akan hal tersebut. Alih-alih meringankan ahli mayit, justru memberatkan mereka, menyibukkan mereka, dan bahkan mengada-ada dalam urusan agama.

Demikian kira-kira kesimpulan kami dari para ulama yang melarang.

Ada memang sebagian ulama yang membolehkan kumpul-kumpul secara muthlaq setelah mayit dikuburkan. Mereka juga bawa dalil-dalilnya. Diantara hujjah mereka terkait atsar sahabat Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, kemudian mereka juga bawa dalil-dalil lain. Hanya saja terlalu panjang jika dibahas disini. Selain itu kaifiyyat yang mereka jelaskan berbeda dengan yang terjadi di Indonesia ini. Sehingga tidak bisa dijadikan hujjah.

Kesimpulannya, agenda kumpul-kumpul tanpa tahlilan setelah dikuburkan mayit dipandang makruh bahkan ada yang mengharamkan. Terutama oleh ulama mu’ashirin. Jika dibuatkan makanan oleh ahli mayit untuk yang kumpul-kumpul, maka itu bagian dari niyahah berdasarkan atsar di atas. Dan jika ditambah pula dengan agenda baca-baca dzikir tertentu dengan dipandu seseorang serta menentukan hari, maka ini butuh pada dalil khusus. Jika tidak ada dalil khusus, maka masuk kategori muhdats dalam agama, tentu bahayanya tidak seringan yang kita kira.

Taruhlah misalkan atsar Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu dha’if sebagaimana dijelaskan oleh sebagian ulama karena ada ‘illat tersembunyi padanya yang menyebabkan ia dha’if, berarti ia bukan bagian dari niyahah (misalkan), namun tetap bahaya. Mengapa? Karena praktek di Indonesia menunjuk pada perkara muhdats. Tentu lebih berat dari niyahah itu sendiri.

Nah. Ini sudut berikutnya.

Sekarang kita masuk ke pembahasan apakah jika kita tidak melakukan tahlilan, namun ternyata ada yang menahlili, apa kemudian mayit akan diadzab karenanya?

Jika kita merujuk kepada pendapat Jumhur Ulama yang dijelaskan An-Nawawiy tadi di atas bahwasanya mayit diadzab karena ratapan keluarganya jika ia berwasiat agar diratapi, jika ia tidak berwasiat, maka ia tidak diadzab karena itu InSyaaAllah…

Imam An-Nawawiy melanjutkan dalam Syarh Shahih Muslim,

قالوا فأما من بكى عليه أهله وناحوا من غير وصية منه فلا يعذب لقول الله تعالى ولا تزر وازرة وزر أخرى قالوا وكان من عادة العرب الوصية بذلك

“Mereka (Jumhur Ulama) juga mengatakan, mayit yang ditangisi keluarganya dan diratapi tanpa ada wasiat sebelumnya, maka dia tidak disiksa, berdasarkan firman Allah, (yang artinya), ”Seseorang tidak menanggung dosa yang dilakukan orang lain.”

Mereka mengatakan, bahwa bagian dari kebiasaan orang arab, mereka berwasiat agar diratapi.” (Syarh Shahih Muslim, 6/228)

Demikian yang kami cenderung padanya…

Wallahu Waliyyut Taufiiq.

Akhukum,
Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor : Tasyim

(Visited 103 times, 1 visits today)
baca juga :  Hukum Menyebutkan Nama-nama Orang Yang Berqurban Ketika Penyembelihannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *