Alasan Imam Malik Menganggap makruh Shaum 6 Hari Bulan Syawwal

ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ

Sebagian orang terutama penuntut ilmu merasa kebingungan dengan pendapat Imam Malik bin Anas ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ memakruhkan Shaum 6 hari di bulan Syawwal. Pasalnya telah datang hadits shahih yang menganjurkannya,

ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺃﻳﻮﺏ ﺍﻷﻧﺼﺎﺭﻱ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﺃﻧﻪ ﺣﺪﺛﻪ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ : ﻣﻦ ﺻﺎﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺛﻢ ﺃﺗﺒﻌﻪ ﺳﺘﺎ ﻣﻦ ﺷﻮﺍﻝ ﻛﺎﻥ ﻛﺼﻴﺎﻡ ﺍﻟﺪﻫﺮ .

Dari Abu Ayyub al-Anshariy ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ bahwasanya beliau berkata, Rasulullah ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ bersabda,

“Sesiapa yang shaum Ramadhan kemudian diikuti dengan 6 hari di bulan Syawwal maka seperti shaum setahun penuh.” (Riwayat Muslim)

ﻋﻦ ﺛﻮﺑﺎﻥ ﻣﻮﻟﻰ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻦ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ : ﻣﻦ ﺻﺎﻡ ﺳﺘﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻔﻄﺮ ﻛﺎﻥ ﺗﻤﺎﻡ ﺍﻟﺴﻨﺔ } ﻣﻦ ﺟﺎﺀ

-sponsor-
ﺑﺎﻟﺤﺴﻨﺔ ﻓﻠﻪ ﻋﺸﺮ ﺃﻣﺜﺎﻟﻬﺎ .{ ﺻﺤﺤﻪ ﺍﻷﻟﺒﺎﻧﻲ

Dari Tsauban maula Rasulillah ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ, dari Rasulillah ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ bahwasanya beliau bersabda:

“Sesiapa yang shaum 6 hari ba’da fithri maka itu seperti shaum setahun secara sempurna (Sesiapa yang melakukan kebaikan maka baginya pahala sepuluh kali lipat semisal).” (Riwayat Ibnu Majah, di-shahih-kan Al-Albaniy)

Apakah benar Imam Malik memakruhkannya?

Apa alasan beliau tidak menyukainya?

Beliau ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ tidak menyukai shaum Syawwal bukan secara dzatnya, namun karena praktek yang dilakukan oleh sebagian orang di masa beliau.

baca juga :  Hukum Menambahkan Nama Pasangan Di Belakang Nama Kita (Bagian 1)

Al-Bājiy dalam kitabnya Al-Muntaqā menyebutkan,

ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻛﺮﻩ ﺫﻟﻚ ﻣﺎﻟﻚ ﻟﻤﺎ ﺧﺎﻑ ﻣﻦ ﺇﻟﺤﺎﻕ ﻋﻮﺍﻡ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺫﻟﻚ ﺑﺮﻣﻀﺎﻥ ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﻤﻴﺰﻭﺍ ﺑﻴﻨﻬﺎ ﻭﺑﻴﻨﻪ ﺣﺘﻰ ﻳﻌﺘﻘﺪﻭﺍ ﺟﻤﻴﻊ ﺫﻟﻚ ﻓﺮﺿﺎ .

“Hanyalah Imam Malik tidak suka pada shaum Syawwal (bukan pada shaumnya) karena takut orang awamm memasukkannya bagian dari Ramadhan, dan mereka tak membedakan antara keduanya hingga mereka meyakini semuanya itu fardhu.”

Na’am. Imam Malik tidak melihat kebiasaan para salaf terutama penduduk Madinah melakukan shaum Syawwal dengan cara dilakukan berturut-turut langsung pasca ‘Ied. Namun beliau melihat penduduk Madinah melakukannya seperti shaum sunnah biasa yang dilakukan jarang-jarang dan berjeda waktu. Sehingga ketika beliau melihat sebagian awamm mempraktekkannya secara berturut-turut seakan-akan menganggapnya fardhu, maka beliau pun tidak suka.

Jadi bukan pada shaumnya beliau tak suka, namun pada praktek sebagian awamm yang tidak menjeda dan menganggap ia seakan-akan shaum fardhu sebagaimana Ramadhan.

ﻗﺎﻝ ﻣﻄﺮﻑ ﺇﻧﻤﺎ ﻛﺮﻩ ﻣﺎﻟﻚ ﺻﻴﺎﻣﻬﺎ ﻟﺌﻼ ﻳﻠﺤﻖ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺠﻬﻞ ﺫﻟﻚ ﺑﺮﻣﻀﺎﻥ، ﻭﺃﻣﺎ ﻣﻦ ﺭﻏﺐ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻟﻤﺎ ﺟﺎﺀ ﻓﻴﻪ ﻓﻠﻢ ﻳﻨﻬﻪ

Mutharrif berkata, “Hanyalah Imam Malik tidak menyukai shiyam mereka agar jangan sampai Ahlul Jahl (awamm) memasukkannya bagian dari Ramadhan. Dan adapun yang senang melakukannya (dengan menjeda) karena ada dalil shahih yang telah datang maka beliau tidak melarangnya.”

Maka nampaklah bagi kita bahwa Imam Malik bukan tidak menyukai shaumnya, namun beliau menganggap praktek dan keyakinan sebagian awamm itu tergolong perkara baru, karena tidak dicontohkan para salaf terutama penduduk Madinah. Yang mana dimaklumi bahwa penduduk Madinah tidak melakukan shaum Syawwal sebanyak 6 hari secara berturut-turut, akan tetapi mereka menjeda-jedanya.

baca juga :  Ketawakalan Di Masa Pandemi

Sehingga ketika ada sebagian awamm yang menganggapnya bagian dari Ramadhan dan melakukannya secara berturut-turut beliau tidak suka, karena khawatir dianggap fardhu dan praktek tersebut bagi Imam Malik tidak sesuai dengan amalan para salaf penduduk Madinah.

Adapun pada mereka yang melakukannya dengan cara menjeda, dalam artian bersesuaian dengan para salaf ahli madinah, maka beliau tidak melarangnya.

Jadi, yang makruh di sisi Imam Malik bukanlah shaumnya, namun praktek para awamm dan anggapan mereka terhadapnya.

Terkait apakah shaum Syawwal itu adalah shaum tersendiri ataukah ia sebenarnya shaum sunnah biasa yang dilakukan di bulan syawwal maka dalam hal ini terjadi khilaf di kalangan para ulama yang akan kita bahas dalam tulisan berikurnya InSyaaAllah.

Wallahu A’lam bish shawaab.

Akhukum,

Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor : Dudi Rusdita

(Visited 92 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *