Alasan Dari Do’a

  • by

قَا لَ رَبِّ اِنِّيْ وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّيْ وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَّلَمْ اَكُنْ بِۢدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيًّا

“Dia (Zakaria) berkata, Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku.”

(QS. Maryam 19: Ayat 4)

Imam Asy-Syaukaniy dalam Fathul Qadiir menukil perkataan sebagian ulama,

يستحب للمرء أن يجمع في دعائه بين الخضوع، وذكر نعم الله عليه كما فعل زكريا ها هنا

“Disunnahkan bagi seseorang mengumpulkan dalam do’anya kerendahan hati, dan penyebutan nikmat-nikmat Allah atasnya sebagaimana yang dilakukan Zakariyya ‘alayhissalaam di ayat ini.”

Urusan do’a bukan sekedar penyebutan keinginan tanpa makna, tanpa kehadiran hati. Tidak demikian. Sering kita berdo’a tapi hati sibuk entah kemana. Diri merasa tidak butuh pada Dia yg diminta. Serta lupa

-sponsor-
akan banyaknya nikmat yang Allah anugerahkan.

Lihatlah bagaimana Nabi Zakariyya ‘alayhissalaam mengakui lemahnya dirinya. Itu bagian dari ke-khudhu’-an. Namun beliaupun tetap mensyukuri akan banyaknya nikmat salah satunya pengabulan-pengabulan do’a yang banyak sebelum itu. Hingga beliau tak akan jemu untuk terus meminta. Ini bentuk penyebutan kenikmatan, yaitu kesyukuran. Juga bentuk kehadiran hati serta keyakinan akan pengabulan.

Yang menarik dan penuh faedah adalah tatkala beliau mengungkap alasan keinginan beliau memiliki anak. Pada ayat berikutnya Allah berfirman,

وَاِ نِّيْ خِفْتُ الْمَوَا لِيَ مِنْ وَّرَآءِيْ وَكَا نَتِ امْرَاَ تِيْ عَا قِرًا فَهَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ وَلِيًّا ۙ

baca juga :  Teruntuk Tahsiner

“Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu,”

(QS. Maryam 19: Ayat 5)

Asy-Syaukaniy, masih dalam Fathul Qadir, menukil sebagian salaf menafsirkan maksudnya,

إنهم كانوا مهملين لأمر الدين، فخاف أن يضيع الدين بموته.

“Sesungguhnya mereka (kerabat Zakariyya) melalaikan perintah-perintah agama. Maka Nabi Zakariyya khawatir agama disia-siakan dengan setelah kematiannya.”

Zakariyya punya alasan kuat akan permintaan beliau. Alasannya bukan perkara duniawi semata. Bukan sekedar ingin memiliki keturunan. Beliau ingin agama terjaga. Memiliki keturunan yg bisa mewarisi ilmu dan ketaqwaan beliau, bahkan juga kenabian beliau.

Ada faedah penting disini…..

Mungkin sebagian dari kita telah serius dalam berdo’a. Begitu khudhu’, menghadirkan hati, begitu meyakini akan pengabulan. Namun sedikit dari kita yang punya alasan kuat mengapa kita meminta hal tersebut!

Atau mungkin kita telah memiliki alasan, tapi orientasinya selalu saja hanya sebatas kenikmatan duniawi.

Jika dirimu ingin memiliki keturunan. Maka apa alasan terkuatmu meminta itu? Agar jangan sampai untuk sekedar agar ada yg mewarisi harta saja. Atau kebanggaan saja. Apa alasan ukhrawinya?

Jika dirimu meminta diberi rizqi rumah, maka apa alasan terkuatmu mengapa meminta itu? Apa alasan ukhrawinya? Agar bukan hanya sekedar untuk bisa tinggal saja tanpa kepanasan dan kehujanan.

Jika dirimu meminta diberi jodoh shalih atau shalihah. Maka apa alasan terkuatmu meminta hal tersebut? Apa alasan ukhrawinya?

baca juga :  Hikmah Dari Diamnya Guru Dan Bebasnya Murid

Begitu pula untuk yg lainnya. Apa alasan terkuat dari permintaanmu? Apa alasan ukhrawinya?

Akhukum,
Al-Faqiir ilallah Abu Hāzim Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I. (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor: Adnan Aliyyudin

(Visited 29 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *