Adakah Shalat Dzuhur Setelah Shalat Jum’at ?

  • by

Sudah ma’ruf di sebagian mesjid terutama di daerah kami senantiasa dilaksanakan shalat Dzhuhur setelah shalat Jum’at. Mereka biasa menyebut dengan shalat I’adah atau Mu’adah. Setidaknya itu yang kami dapatkan informasinya dari mereka.

Namun, bagaimanakah kedudukan shalat tersebut di dalam syari’at? Adakah contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam, para sahabat radhiyallahu ‘anhum, para Tabi’in rahimahumullah, dan seterusnya?

Mari kita sedikit mengkajinya.

Pertama. Tidak kami dapati satupun dalil yang shahih dalam syari’at terkait hal tersebut. Bahkan itu perkara muhdats (baru) yang dicela agama.

Al-Imam ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz rahimahullah mengatakan tentang shalat ini,

ﺇﻋﺎﺩﺓ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻈﻬﺮ ﺑﻌﺪ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﺃﻣﺮ ﻣﺤﺪﺙ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻓﻲ ﻋﻬﺪ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﷺ ﻭﻻ ﻓﻲ ﻋﻬﺪ ﺍﻟﺘﺎﺑﻌﻴﻦ ﻟﻬﻢ ﺑﺈﺣﺴﺎﻥ

“Mengulang shalat Dzhuhur setelah shalat Jum’at adalah perkara

-sponsor-
muhdats (baru). Tak pernah dilakukan di zaman para Sahabat Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam, dan tak pula dilakukan di zaman para Tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik.”

Beliau juga mengatakan,

ﻓﺎﻟﻮﺍﺟﺐ ﻋﻠﻰ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﻌﻴﺪﻭﻧﻬﺎ ﺃﻥ ﻳﺘﻘﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺃﻥ ﻳﺘﺮﻛﻮﺍ ﻫﺬﻩ ﺍﻹﻋﺎﺩﺓ ﻓﺈﻧﻬﺎ ﺑﺪﻋﺔ ﻻ ﻭﺟﻪ ﻟﻬﺎ

“Maka wajib atas orang yang mengaku ahli ilmu yang mengulanginya (shalat Jum’at dengan shalat Dzhuhur) untuk bertaqwa pada Allah dan agar meninggalkan shalat i’adah atau mu’adah ini! Karena ia adalah bid’ah tidak ada contohnya.”

Senada dengan Imam Ibnu Baaz, Syaikh Khalid Ar-Rifa’i dalam situs islamway.net juga mengatakan,

ﻓﺈﻥ ﻣﺎ ﻳﻔﻌﻠﻪ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻣﻦ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻈﻬﺮ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻻ ﺩﻟﻴﻞ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ، ﺑﻞ ﻫﻮ ﺧﻼﻑ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﻻ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺍﻟﻌﻤﻞ ﺑﻪ …

“Maka seseungguhnya apa yang dilakukan oleh sebagian muslimin berupa shalat dzhuhur setelah shalat Jum’at itu TIADA DALIL atasnya dari syari’at, bahkan ia menyelisihi As-Sunnah, dan TIDAK SEYOGYANYA BERAMAL DENGANNYA…”

baca juga :  Menentukan Sendiri Dzikir Untuk Orang Sakit

( http://iswy.co/e29ac3 )

Jika tak ada dalilnya, tidak ada asalnya dari agama maka berlaku hadits,

ﻣﻦ ﺃﺣﺪﺙ ﻓﻲ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﻫﺬﺍ ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﻣﻨﻪ، ﻓﻬﻮ ﺭﺩٌّ

“Barangsiapa yang mengadakan perkara baru dalam urusan agama kami ini yang bukan berasal darinya maka ia tertolak.” (HR. Al-Bukhariy dan Muslim)

Dan dalam riwayat Imam Muslim,

ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﻋﻤﻠًﺎ ﻟﻴﺲ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻣﺮﻧﺎ، ﻓﻬﻮ ﺭﺩٌّ

“Barangsiapa yang melakukan satu amalan bukan atas dasar perintah dari kami maka ia tertolak.” (HR. Muslim)

Kedua. Sebagian menganggap bahwa ini madzhab Syafi’iy. Maka kami katakan : Na’am, ini madzhabnya Syafi’iyyah dari kalangan Mutaakhkhirin. Yaitu mereka berdalil dengan perkataan Asy-Syafi’iy,

ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻟﻤﻦ ﺳﺒﻖ

“Jum’at itu bagi yang lebih dahulu (Takbiratul Ihram).”

Apa maksudnya?

Kita lihat bagaimana keterangan ulama Syafi’iyyah, mereka mengatakan :

ﻳﺠﺐُ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺘﺄﺧِّﺮ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻈﻬﺮ، ﻭﺇﺫﺍ ﺷﻚَّ ﻓﻲ ﺗﻌﻴﻴﻨﺎ ﻷﺳﺒَﻖ، ﻭﺟﺐ ﺍﻹﻋﺎﺩﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺠﻤﻴﻊ . ﻭﺇﺫﺍ ﻋُﻠﻢ ﺍﺗﻔﺎﻗﻬﻢ ﻓﻲ ﺗﻜﺒﻴﺮﺓ ﺍﻹﺣﺮﺍﻡ؛ ﻓﺎﻟﻮﺍﺟﺐ ﺇﻋﺎﺩﺓ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺠﻤﻴﻊ، ﺇﺫﺍ ﺑﻘﻲ ﻭﻗﺖٌ ﻳَﺴَﻊُ ﻟﻺﻋﺎﺩﺓ، ﻭﻣَﻦْ ﺳَﺒَﻖ ﺑﺎﻹﻋﺎﺩﺓ ﺻﺤَّﺖ ﺟُﻤُﻌﺘﻪ، ﻭﻭﺟﺐ ﻋﻠﻰ ﺍﻵﺧﺮﻳﻦ ﺍﻟﻈُّﻬْﺮُ

“Wajib bagi yang belakangan (Takbiratul Ihram-nya) shalat Dzhuhur. Jika ragu memastikan Jama’ah awal pada posisi apa, maka wajib mengulang semuanya. Jika diketahui mereka berbarengan dalam Takbiratul Ihram, maka wajib mengulang shalat Jum’at atas semuanya jika sisa waktunya cukup untuk mengulang. Dan jika Jama’ah awal melakukan I’adah maka shalat Jum’atnya sah. Sementara wajib bagi Jama’ah lainnya shalat Dzuhur.”

Maka kita perhatikan prakteknya Syafi’iyyah yang menganggap adanya shalat I’adah atau Mu’adah saja berbeda prakteknya dengan yang dilakukan oleh sebagian orang terutama di daerah kami.

baca juga :  Bahayanya Salah Faham Terhadap Qaul Ulama

Adapun di daerah kami, shalat I’adah atau Mu’adah yaitu melakukan shalat Dzhuhur setelah shalat Jum’at terus menerus dilakukan setiap Jum’at. Padahal jumlah Jama’ah sudah lebih dari 40 orang dan Mesjid utama lebih dahulu dari mesjid kedua dalam Takbiratul Ihram. Jika melalui sudut pandang Syafi’iyyah mutaakhkhirin tentu sudah sah. Namun I’adah ini terus menerus dilakukan sepanjang tahun seakan-akan shalat Jum’at yang telah dilakukan itu selalu batal. Ini jelas membingungkan, berlebihan, keliru, memberatkan, serta menyelisihi As-Sunnah.

Syaikh Khalid Ar-Rifai mengatakan terkait praktek semacam ini,

ﻭﻻ ﺷﻚَّ ﺃﻥ ﻛﻞَّ ﻫﺬﺍ ﻟﻢ ﻳَﻘُﻢْ ﻋﻠﻴﻪ ﺩﻟﻴﻞٌ ﻣﻦ ﻛﺘﺎﺏٍ ﻭﻻ ﺳُﻨَّﺔٍ، ﻭﻻ ﺇﺟﻤﺎﻉٍ، ﻭﻻ ﻗﻴﺎﺱٍ ﺻﺤﻴﺢ .

“Dan tidak ragu lagi bahwa praktek ini semuanya tidak tegak atasnya dalil baik dari Al-Quran maupun Sunnah, tidak pula Ijma’, dan tidak pula dari Qiyas yang shahih…”

Ketiga. Mereka berpandangan bahwa shalat Jum’at tidak boleh di 2 tempat berbeda dalam satu wilayah.

Thayyib, mari kita perhatikan bagaimana Imam An-Nawawiy (tokoh Madzhab Syafi’iy bahkan termasuk pengumpul Madzhab Syafi’iy) berkomentar terkait persoalan ini dalam kitabnya,

Majmu’ Syarh Muhadzdzab,

ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ – ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲُّ – ﻓﻲ ” ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻉ :” ” ﻭﺍﻟﺼَّﺤﻴﺢُ ﻫﻮ ﺍﻟﻮﺟﻪ ﺍﻷﻭﻝ، ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺠﻮﺍﺯ ﻓﻲ ﻣﻮﺿﻌَﻴْﻦ ﻭﺃﻛﺜﺮ،ﺑﺤﺴﺐ ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ ﻭﻋُﺴْﺮ ﺍﻻﺟﺘﻤﺎﻉ؛ ﻗﺎﻝ ﺇﻣﺎﻡ ﺍﻟﺤَﺮَﻣَﻴْﻦ : ﻃُﺮُﻕُ ﺍﻷﺻﺤﺎﺏ ﻣﺘَّﻔﻘﺔٌ ﻋﻠﻰ ﺟﻮﺍﺯ ﺍﻟﺰﻳﺎﺩﺓﻋﻠﻰ ﺟﻤﻌﺔٍ ﺑﺒﻐﺪﺍﺩ، ﻭﺍﺧﺘﻠﻔﻮﺍ ﻓﻲ ﺗﻌﻠﻴﻠﻪ “.

“Yang shahih adalah pendapat pertama, yaitu BOLEHNYA shalat Jum’at dilakukan di DUA TEMPAT ATAU LEBIH, berdasarkan kebutuhan dan sulitnya berkumpul di satu tempat.”

Berkata Imam Haramain : “Pendapat-Pendapat para Ashhab Syafi’iyyah SEPAKAT akan BOLEHNYA tambahan tempat untuk shalat Jum’at di Baghdad, dan mereka berselisih dalam alasannya.”

baca juga :  Kapan Waktu Shalat Taubat

Dimaklumi bahwa di zaman sekarang kita sangat berhajat pada banyaknya mesjid dalam satu wilayah. Berhajat pada banyaknya penyelenggaraan shalat Jum’at. Apalagi di kota besar yang notebene sangat padat penduduk. Di kota kecil seperti Majalengka saja pertumbuhan penduduk begitu pesat dan tidak mungkin jika dikumpulkan di satu mesjid saja. Maka kaidah-kaidah Syafi’iyyah Mutaakhkhirin dalam hal ini tidak relevan. Selain itu, aturan tersebut tak kita temukan dalilnya. Itu memberatkan, tidak sesuai dengan kaidah-kaidah ushul agama ini. Karena Allah berfirman,

{ ﻭَﻣَﺎ ﺟَﻌَﻞَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ﻣِﻦْ ﺣَﺮَﺝٍ { ‏[ ﺍﻟﺤﺞ : 78 ]”

“Dan tidaklah Allah menjadikan atas kalian dalam agama ini kesulitan.” (Al-Hajj: 78)

Keempat. Sekalipun misalkan ada kaidah-kaidah demikian, maka I’adah itu tak selalu berarti shalat Dzhuhur lagi setelah Jum’at. Bisa jadi ia mengulang shalat Jum’at lagi. Sebab jika mengulang dengan shalat Dzhuhur maka ini ANEH dan PERKARA BARU (BID’AH) dalam agama.

Kelima. Kalimat   ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻟﻤﻦ ﺳﺒﻖ ,  bukanlah hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam. Ia hanya ijtihad sebagian Syafi’iyyah saja. Dan ijtihad itu bisa benar dan bisa salah.

Akan sangat panjang membahas hal ini, maka saya cukupkan saja dulu. Kesimpulannya adalah bahwa melakukan shalat dzhuhur setelah shalat Jum’at adalah perkara baru yang tidak tegak di atasnya dalil baik dari Al-Quran, As-Sunnah, Ijma’, maupun Qiyas yang shahih. Maka seyogyanya tidak mengamalkannya.

Wallahu Waliyyut Taufiiq.

Akhukum,
Al-Faqiir ilallah Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor: Adnan Aliyyudin

(Visited 39 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *