BIASA SEJAK DINI

  • by

Kecintaan pada Bahasa Arab dan warisan para ulama berupa kitab-kitab klasik terkadang bisa dibentuk semenjak dini. Disinilah orang tua berperan terhadap anaknya.

Sering saya dapati beberapa santri yang sangat mahir dalam English ternyata memiliki kebiasaan berbeda di rumahnya. Dihadirkan untuknya guru privat, misalnya, sampai terbiasa nonton kartun-kartun dan acara-acara anak di TV cable rumahnya. Intinya ia dibentuk.

Sekilas memang tampak bahwa hal tersebut tidak mungkin bagi keluarga sederhana dengan penghasilan sederhana. Membayar guru privat itu mahal. Menyiapkan TV cable juga tak semurah yang dibayangkan. Namun saya optimis bahwa orang tua yang memperhatikan pendidikan anaknya itu akan berupaya sekuat tenaga melakukan yang terbaik.

Itu untuk bahasa Inggris. Kita berbicara Bahasa Arab sekarang. Al Lughah Hiya Al Mumaarasah, Bahasa itu kebiasaan. Jika kita tak membiasakan diri dengannya, mustahil akan bisa. Maka membiasakan diri dan anak

-sponsor-
dengannya berarti menyiapkan jalan untuk bisa. Dan jika sudah bisa, maka akan cinta.

Saya teringat dengan jasa orang tua terhadap saya. Dulu, dari semenjak kecil Bapak yang memang santri NU tulen sering memanggil para ustadz untuk datang ke rumah kami. Tujuannya untuk apa? MENGAJARI SAYA kitab kuning. Ada yang mengajarkan Sullam at-Taufiq, Safinah, Fathul Qarib syarh Ghayatit Taqriib, Fathul Mu’in, dll. Disamping Bapak juga sering ngajak saya hadir di kajian rutin para Kiyai waktu itu. Tak terthitung kunjungan kami ke pesantren-pesantren yang ada di sekitaran Cirebon dan Majalengka.

baca juga :  Kulaimat Ibnu Hazm

Tak memberatkan memang waktu itu, sebab para ustadz datang ke rumah malam hari, di luar waktu main saya. Dulu memang belum merasakan manfaatnya. Namun setelah dewasa barulah saya rasakan manfaatnya. Entah mengapa saya merasa cinta pada bahasa arab kitab-kitab klasik, baik yang kertasnya kuning maupun putih. Begitu pula kitab-kitab kontemporer bahasa Arab, baik yang sudah tercetak maupun yang masih dalam format PDF. Termasuk kecintaan terhadap buku-buku secara umum. Hingga tak terasa sudah lebih dari 1000 kitab ada di rumah. Setiap kali pindahan, yang dianggap berat oleh istri adalah “madu”nya, yaitu kitab-kitab.

Kecintaan itupun terus tumbuh di hati saya sampai entah berapa kali saya mengulang Al Ajurrumiyah dan syarahnya seperti Tuhfatus Saniyyah, Al Mumti’, dll. Begitupula dari kalangan ulama belakangan seperti Muyassar, An Nahwul Wadhih, Mulakhkhas, dll. Itu baru Nahwu. Untuk sharaf asyik dengan nadzham maqshud, kailaniy, sampai karya-karya KH. A. Zakaria. Sementara untuk modern pernah pakai Silsilah Ta’lim ketika di Ma’had Al Imarat, Arabiyyah baina yadaik, Arabiyyah lin nasyiin, sampai durusul lughah, dll. Untuk balaghah pakai Al Balaghah Al Wadhihah, Jauharul Maknun, dan semisalnya.

Bukan berarti saya sudah sangat mahir. Saya banyak mengulang karena cinta. Saya banyak mengulang karena selalu menemukan faedah baru di setiap pengulangan. Sampai ketika saya mengambil gelar Bachelor of Art (BA), yang biasa orang gelari Lc., kegiatan mengulang bahasa arab dan membaca kitab-kitab masih terus saya lakukan. Daurah-daurah bahasa dan ilmu syar’i, sampai majelis hadits juga berupaya diikuti selama infaqnya bersahabat. Hehe. Susah untuk diungkapkan pada pembaca tentang kenikmatannya. Sebab ini urusan cinta. Ini soal rasa, kawan…

baca juga :  Rasa Barakah

Kita kembali ke kebiasaan dan pembiasaan. Nah, kecintaan itu akan muncul karena kebiasaan dan pembiasaan. Dan itu bisa dibentuk dari sejak dini. Tugas kitalah sekarang selaku orang tua untuk membiasakan mereka cinta pada bahasa yang mana Allah turunkan Quran dengannya, dan hadits Rasul dengannya pula. Bukan bermaksud menyepelekan. Saya pernah kursus bahasa inggris, tapi kenikmatannya tak bisa melampaui Bahasa yang Allah pilih itu (Arab).

‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata,

تعلموا العربية فإنها جزء من دينكم

“Pelajarilah oleh kalian bahasa arab, karena ia adalah bagian dari agama kalian!”

Atau qaul Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah,

لا سبيل لضبط هذا الدين إلا بضبط اللسان العربي

“Tak ada jalan untuk memahami agama ini kecuali dengan memahami lisannya orang arab (bahasa arab)”

Jika kita menginginkan generasi yang Islami, dan masa depan ini milik Islam, maka kita mulai dengan membentuk generasi penerus kita mencintai Bahasa Arab dan Ilmu Syar’i secara umum, dan terkhusus lagi gear membaca kitab-kitab warisan para ulama.

Akhukum,

Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor : Dudi Rusdita

(Visited 92 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *